oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 04 Agustus 2011 jam 13:14
Teman kantorku pernah ada yang bertanya, “Kenapa kamu selalu pakai kerudung ?” dan aku tersenyum saja mendapat pertanyaan semacam itu karena aku tahu temanku tadi adalah non muslim yang pemahamannya pada jilbab diartikannya sama dengan baju adat yang dikenakan hanya pada saat beribadah atau pada acara-acara formal tertentu saja.
Dia tidak tahu dan aku pun tidak memaksakan agar dia bisa mengerti bahwa kerudungku ini adalah bagian dari pakaianku, dan bila aku tidak memakainya sama halnya dengan aku berpakaian dengan tidak lengkap dan itu artinya aku telanjang.
Mungkin sekarang lagi model pakaian yang serba minim, minim bahan dan minim jahitan. Tapi aku tetap punya pilihan untuk tidak memilih pakaian yang seperti itu, karena setahuku pakaianku haruslah menutup aurat.
Aku memutuskan untuk berjilbab saat aku mendapatkan seruannya dalam mimpiku suatu malam. Aku hanya mendengar suara saja “Akan lebih baik bila ini tertutup….”
Suara agung itu tanpa aku tahu siapa pemiliknya, dan ku akui aku berhijab sejak aku mendapatkan mimpi itu. Namun kini aku tahu harusnya aku berkerudung tanpa harus ada alasan tertentu dan dengan sebab tertentu pula karena hijab adalah perintahNya dan kita harusnya mematuhinya sebagai muslimin.
Aku berhijab bukan untuk menyembunyikan kekurangan yang mereka bicarakan selama ini, pun tidak agar disebut “alim” atau apa pun itu. Karena aku tahu mereka sangat tidak mengerti bentuk takzimku, dan aku pun sadar tidak semua orang bisa memahami bagaimana aku menjalani ke-Islam-anku.
Aku hanya menjalankan perintah Rabb-ku saja yang menjaga apa-apa yang dianugerahkanNya padaku hanya untuk yang halal melihatku, karena aku tahu tubuh ini adalah sumber fitnah dari segala arah.
Dengan berhijab bukan lantas aku berhak menyandang predikat sebagai orang suci, karena sesungguhnya hati manusia sangatlah lemah. Ada banyak hal yang melemahkannya dan ada berbagai cara yang membuatnya menjauh dari Iman jua Islam.
Ibadahku tidak sempurna, hatikupun kadang terselimuti keluh, aku berserah namun aku tetap merasakan kecemasan, aku memberi namun ingin diketahui yang lainnya, aku hina berkubang dosa.
Kuingat-ingat berapa banyak ku keluarkan air mata namun aku tak pernah menghitung berapa besar nikmat yang diberikan atas kasih dan sayangNya padaku.
Kuingat benar berapa kali luka goreskan duka yang sangat mendalam hingga sempat kubertanya padaNya “Kenapa ? Kenapa harus aku yang mengalaminya ?!” dan aku terlalu sibuk dengan itu hingga tak memperhatikan orang-orang disekitarku yang akhirnya ku tahu penderitaan mereka lebih dahsyat dari yang kurasa.
Rabb, aku tak hanya lemah, aku benar-benar tak berdaya dengan mengingkari semua yang kulihat, kudengar dan kurasakan.
Taubat nasuha, Insyaallah bisa mengembalikanku pada RahmatNya, dengan ibadah, ikhtiar, dan tetap istiqomah karena semua jalan akhirnya akan bermuara padaNya kelak.
Hanya berharap kesabaran dan ketabahan jua keikhlasan atas segala yang terjadi, karena aku tahu semua sudah tercatat pada Lauhul Mahfudz-ku ?

Dia tidak tahu dan aku pun tidak memaksakan agar dia bisa mengerti bahwa kerudungku ini adalah bagian dari pakaianku, dan bila aku tidak memakainya sama halnya dengan aku berpakaian dengan tidak lengkap dan itu artinya aku telanjang.
Mungkin sekarang lagi model pakaian yang serba minim, minim bahan dan minim jahitan. Tapi aku tetap punya pilihan untuk tidak memilih pakaian yang seperti itu, karena setahuku pakaianku haruslah menutup aurat.
Aku memutuskan untuk berjilbab saat aku mendapatkan seruannya dalam mimpiku suatu malam. Aku hanya mendengar suara saja “Akan lebih baik bila ini tertutup….”
Suara agung itu tanpa aku tahu siapa pemiliknya, dan ku akui aku berhijab sejak aku mendapatkan mimpi itu. Namun kini aku tahu harusnya aku berkerudung tanpa harus ada alasan tertentu dan dengan sebab tertentu pula karena hijab adalah perintahNya dan kita harusnya mematuhinya sebagai muslimin.
Aku berhijab bukan untuk menyembunyikan kekurangan yang mereka bicarakan selama ini, pun tidak agar disebut “alim” atau apa pun itu. Karena aku tahu mereka sangat tidak mengerti bentuk takzimku, dan aku pun sadar tidak semua orang bisa memahami bagaimana aku menjalani ke-Islam-anku.
Aku hanya menjalankan perintah Rabb-ku saja yang menjaga apa-apa yang dianugerahkanNya padaku hanya untuk yang halal melihatku, karena aku tahu tubuh ini adalah sumber fitnah dari segala arah.
Dengan berhijab bukan lantas aku berhak menyandang predikat sebagai orang suci, karena sesungguhnya hati manusia sangatlah lemah. Ada banyak hal yang melemahkannya dan ada berbagai cara yang membuatnya menjauh dari Iman jua Islam.
Ibadahku tidak sempurna, hatikupun kadang terselimuti keluh, aku berserah namun aku tetap merasakan kecemasan, aku memberi namun ingin diketahui yang lainnya, aku hina berkubang dosa.
Kuingat-ingat berapa banyak ku keluarkan air mata namun aku tak pernah menghitung berapa besar nikmat yang diberikan atas kasih dan sayangNya padaku.
Kuingat benar berapa kali luka goreskan duka yang sangat mendalam hingga sempat kubertanya padaNya “Kenapa ? Kenapa harus aku yang mengalaminya ?!” dan aku terlalu sibuk dengan itu hingga tak memperhatikan orang-orang disekitarku yang akhirnya ku tahu penderitaan mereka lebih dahsyat dari yang kurasa.
Rabb, aku tak hanya lemah, aku benar-benar tak berdaya dengan mengingkari semua yang kulihat, kudengar dan kurasakan.
Taubat nasuha, Insyaallah bisa mengembalikanku pada RahmatNya, dengan ibadah, ikhtiar, dan tetap istiqomah karena semua jalan akhirnya akan bermuara padaNya kelak.
Hanya berharap kesabaran dan ketabahan jua keikhlasan atas segala yang terjadi, karena aku tahu semua sudah tercatat pada Lauhul Mahfudz-ku ?