Selasa, 10 April 2012

Aku Mencintaimu Mbak........


Senja itu ditepian pantai.

Hanya ada beberapa saja yang tampak bermain-main dengan ombaknya, diantaranya berada dalam laut, yang lain lebih senang bermain-main dengan ombaknya, sementara aku hanya duduk saja di bawah pohon waru.

Entah apa yang membawaku kesini…..mungkin hanya ingin penuhi rasa rinduku saja pada gemuruhnya, pada lincah riaknya dan terpaan angin di wajahku.

“Mbak !” kudengar suara panggilan didekatku dan reflek aku menoleh kearah sumber suara. Kudapati sosok laki-laki yang sedang tersenyum lebar kepadaku dan aku spontan mengernyitkan dahi, mencoba mengenalinya, namun sudah beberapa detik berlalu aku tetap tidak bisa menemukannya dalam rekaman ingatanku.

“Mbak lupa ?” tanyanya kemudian karena reaksiku tetap sama setelah beberapa saat menatapnya.

“Siapa ?” tanyaku kemudian.

“Dulu aku dan teman-teman suka minta air tiap selesai main sepak bola di lapangan…” jelasnya seraya duduk di dekatku.

Aku terdiam, mencoba kembalikan ingatanku pada beberapa waktu kebelakang. Memang dulu waktu belum pindah, anak-anak seusai main sepak bola suka ke rumah untuk minta air minum, dan waktu itu banyak yang kerumah.

“Dan Mbak suka menambahkan es batu pada minumanku….!” jelasnya lebih lanjut.

Aku terhenyak dan dengan cepat memalingkan wajah menatap dirinya, karena aku teringat pada satu orang yang kuperlakukan agak khusus pada waktu itu.

“Kamu…?” aku tergetar menatap wajahnya, perpaduan antara terkejut, tidak menyangka namun juga senang

“Iya Mbak…. Ini aku…” katanya dengan tersenyum.

”Kamu sudah besar sekarang dan terlehat beda....” kataku membalas senyumnya setelah meneliti baik-baik dirinya.

”Memangnya dulu aku kecil Mbak ?” tanyanya sambil tertawa.

”Iya, aku melihatnya begitu......karena yang kamu ajak main bola kebanyakan anak kecil.” jawabku sambil tertawa kecil.

Lalu cerita pun mengalir, dimana hampir tiap sore dia ke lapangan bersama teman-temannya dan selalu kerumah untuk meminta air minum. Entah bagaimana awalnya hingga bisa anak-anak itu berani untuk bertandang dan meminta air minum.

”Sudah sore....” kataku saat melihat semburat jingga menyentuh laut di ujung barat. Aku bangkit dan membersihkan tas dipenuhi pasir pada sisinya.

”Mbak sekarang dimana ?” tanyanya sambil ikut berdiri juga.

”Aku pindah dekat sini, tidak dilapangan lagi.” kataku sambil melangkah dan dia mengikutiku pelan.

”Bahkan aku tidak tahu siapa nama Mbak.....?” kata-katanya itu mampu menghentikan langkahku.

Aku menoleh dan menatapnya lurus.....”Aku Husna.....” jawabku pelan.

”Hanif......!” katanya memperkenalkan namanya.

Sudah dari dulu aku mengakrabinya dan baru sekarang aku tahu siapa namanya, dan dia pun begitu.

”Assalamu’alaikum......!” kataku kemudian dan kembali melangkahkan kakiku untuk pulang. Dan samar kudengar jawaban salam darinya.

^_^gLd^_^

Suatu senja lagi masih di tepian pantai.

            Terlihat ramai dari biasanya, banyak anak-anak bahkan ada yang memainkan bola dipantainya yang basah dan sesekali harus terhampas karena terpaan ombaknya. Mereka tampak bahagia sekali dan kudengar tawa yang seakan tiada beban apa-apa.

            Aku tetap memilih duduk dibawah pohon waru dan terus memperhatikan makhluk kecil yang terus berteriak-teriak kegirangan saat mengejar kepiting laut. Dengan lincah

            ”Assalamu’alaikum....” kudengar sapa salam yang terdengar dekat dariku duduk.

            ”Wa’alaikumsalam....” kataku menjawab salamnya sambil menoleh kearahnya dan ternyata itu Hanif.

            ”Tidak sering ya kesini ?” tanya Hanif sambil duduk di dekat kakiku, lalu aku menarik kakiku dan menekuknya.

            ”Iya, hanya bila ingin kesini saja....”jawabku pelan.

            ”Beberapa hari ini aku sering kesini.....dan baru kali ini bisa bertemu lagi.” katanya kemudian.

            ”Adek, jangan dekat-dekat airnya !” teriakku pada anak kecil yang asyik mengejar-ngejar kepiting kecil itu.

            ”Siapa ?” tanya Hanif sangat ingin tahu.

            ”Anakku.....” jawabku sambil tersenyum padanya.

            Dan untuk beberapa saat kami berdiam diri, entah apa yang ada dalam pikirannya ? hanya saja aku merasakan ada perubahan, terlihat dari bahasa tubuhnya.

            Anakku berlari kearahku dan tanpa ragu-ragu menabrakkah tubuhnya dalam dekapanku, dia tersenyum saat kami saling menatap.

            ”Adek, beri salam pada Om !” kataku sambil menyingkirkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya karena tertiup angin pantai.

            ”Ini Aisyah....” kataku memperkenalkan nama anakku. Lalu kulihat dia menyambut uluran tangan Aisyah dan Aisyah pun mencium punggung tangannya.

            ”Cantik.....dan kulihat sorot cerdas dari matanya.” kata Hanif setelah Aisyah mulai berlarian lagi di tepian pantai.

            ”Terimakasih....” kataku sambil tersenyum bangga menatap putri kecilku. ”Kamu gimana ?” aku menanyakan kehidupannya saat ini.

            ”Aku....belum. Aku kesini justru ingin menjemputnya, tapi.......” dia menjawab dengan terbata dan terputus.

            ”Tapi apa ?” tanyaku semakin penasaran.

            ”Sepertinya sudah terlambat......” jawabnya pelan sambil tersenyum yang dia paksakan.

            ”Mungkin tidak berjodoh.” ujarku sambil tersenyum menatapnya.

            Dan dia kembali terdiam, lalu aku bangkit dan menghampiri putri kecilku yang sedang membuat bangunan dari pasir pantai, dan aku tersedot dalam dunianya meski sesekali melihat ke arah Hanif yang tetap bergeming dari tempatnya duduk.   

^_^gLd^_^

Di terminal, beberapa lama setelah sore itu di pantai.

            “Husna !” kuhentikan langkahku dan mencari-cari orang yang memanggilku diantara deretan bis dan bemo, juga hiruk pikuk orang-orang di terminal itu.

            Aku melihat Hanif berlari kecil dan menghampiriku lalu menuntunku untuk menepi.

            “Aku akan pergi.....!” katanya kemudian, dan aku diam mendengarkan karena aku merasa dia belum selesai dengan ucapannya.

            ”Aku sudah tahu.....!” dia berkata agak keras karena saat itu ada bis yang melewati kami keluar dari terminal.

            ”Aku sudah tahu !” ulangnya kemudian karena tidak mendapati reaksi apa-apa dariku.

            ”Tahu apa ?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.

            ”Kamu......sudah pisah dengan suamimu.!” katanya pelan namun penuh ketegasan.

            Aku tidak terkejut mendengarnya, hanya saja aku tidak tahu apa maksudnya dengan mengatakan hal itu padaku.

            ”Kenapa kamu tidak cerita ?” tanyanya dengan rasa kecewa.

            ”Untuk apa ? Ini urusan pribadi Husna....” jawabku pelan.

            ”Tapi aku peduli.....” ucapannya kali ini menghentikan detakanku untuk sesaat. ”Tujuanku kesini adalah mencarimu, mencoba menemukan Mbak-ku yang sangat baik padaku waktu itu......memang hanya segelas air es, tapi aku melihatnya lebih dari itu....” kata-kata yang meluncur dari bibirnya benar-benar tidak bisa kupercaya.

            ”Aku memang terlambat........tapi aku tidak ingin menyesal seumur hidupku, aku tetap peduli sama kamu, Husna...” ucapnya penuh keyakinan.

            ”Pergilah, nanti kamu terlambat....” kataku menghindari sorotnya yang tajam.

            ”Husna, aku akan pergi.....Insyaallah aku akan kembali untuk menjemputmu....” bisiknya pelan ditelingaku. ”Peganglah ini....!” dia menyerahkan tasbih untuk kugenggam.

            Aku terpaku, tidak menyangka dan tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar darinya.

            ”Aku berangkat Husna....” katanya mengagetkanku, dan aku jadi heran kenapa aku merasa kehilangan saat dia berpamitan.

            ”Salam buat Aisy..... Insyaallah Ayah akan datang menjemput setelah semua siap disana....” katanya lagi dan aku sekuat tenaga menahan agar air mata ini tidak keluar.

            Hanif menuntunku kembali dan menghentikan bemo warna biru untukku, lalu mempersilahkan aku naik.

            ”Hati-hati ya, nanti aku kabari.....Assalamu’alaikum.” katanya saat aku sudah duduk dalam bemo yang akan mengantarkanku pulang dari kerja.

            Dari kaca belakang bemo kuperhatikan Hanif melambaikan tangan dan tersenyum lebar padaku, dan aku sudah tidak mampu membendung air mata ini lebih lama lagi.....aku menangis dan kudekap untaian tasbih itu erat di dadaku.

            Saat kuseka air mataku, kurasakan getaran dari dalam tasku, kuambil telpon genggamku dan kulihat ada pesan singkat masuk dari nomer baru.

            ”Aku mencintaimu, Mbak.....” itu pesan singkat yang kubaca dan diakhiri dengan smiley senyum.

            ”Hanif.....” ucapku lirih sambil tersenyum.
           
           





Selasa, 03 April 2012

I haVe to mOve oN


Hujan, dan koridor Rumah Sakit tampak basah dan licin.
Rinainya senada dengan tetesan infus yang terpasang di lenganku.
“Sabar Dek !” suara lembut itu mampu membuat mataku terbuka…..aku melihat sekelilingku, tapi Abang tidak ada disini.
“Adek Abang selalu bersemangat…..harus tetep kuat ya !?” suara itu kembali menggema dan aku ingat itu kata-katanya tadi waktu menelpon…..dan aku masih saja berharap Abang ada disini saat ini.
Aku menatap lenganku yang terbebat dan tertancap jarum infus.
“Bisakah ini yang terakhir ?” gumamku lirih. Ada bayangan senyumnya, candanya dan celotehnya….. “Maafkan aku…..aku meninggalkanmu Bidadariku !” kata
Ketukan pelan di pintu memaksaku untuk menjawabnya.....dan kulihat seorang perawat datang dengan mendorong kursi roda.
“Persiapan operasi ya Mbak…..ganti baju dulu !” kata perawat itu ramah.
Aku nurut dan aku diam saja saat pakaianku dilepas dan digantikan oleh seragam pasien operasi warna hijau.
”Simbol Jannah....” kataku dalam hati. ”Apa bila operasi gagal mereka mengharapkan pasien untuk langsung ke surga ?” bathinku lagi dengan perasaan geli, dan aku tersenyum.
”Maaf Mbak, karena ruangan steril Mbak harus melepas kerudungnya...!” kata perawat itu dan lagi-lagi aku menurut saja. Pastilah Allah memakluminya, karena ini bukan kesengajaanku memperlihatkan auratku.
Selesai aku berpakaian, aku duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat itu menuju ruang operasi dan diikuti jua oleh adikku, satu-satunya penungguku dan bertanggung jawab atas tindakan operasiku saat itu.
Di ruang operasi sudah menunggu beberapa dokter yang akan mengerjakan operasi tersebut.
Dokter bedahku menyapa ramah dan tersenyum lebar.....dan itu menenangkan.
Lalu aku berbaring, lampu mulai dinyalakan dan beberapa alat yang merupakan protap sebuah operasi juga dipasang.....di dada, di punggung, di lengan atas juga dikaki.
”Siapa yang masang infus Mbak, kan tidak harus dikiri ?” tanya salah satu dokter kepada perawat yang sedang memakaikan tutup kepalaku.
Dan sudah barang tentu si Mbak-nya bilang tidak tahu padahal aku tahu dia ada disana saat pemasangannya.
Itulah manusia, tidak ada yang berbesar hati mengakui kesalahannya, kebanyakan ingin pembenaran dan memilih menghindar dari kesalahan yang nyata-nyata telah dibuatnya.
Tapi aku tidak mempedulikan hal itu, mau salah atau tidak yang penting tidak harus mengulang dan saat itu aku terlalu sibuk dengan hatiku. Aku berusaha menenangkannya dengan Asma’ul Husna, mengatur detakanku dengan Sholawat dan menjaga nafasku dengan dzikir.
”Mbak ada penyakit sesak ?” tanya dokter dan aku menggeleng, ”Sakit maag ?” tanyanya lagi dan kali ini aku mengangguk.
Berdo’a ya Mbak, akan mulai dibius....” kata dokter kemudian.
Aku hanya sempat melihat dua kali suntikan ke selang infusku, padahal dokter membawa beberapa spuit yang kutahu lebih dari dua jumlahnya, dan aku mulai merasakan sensasinya.
Kedua lenganku terasa ngilu dan linu, sangat pegal. Kemudian nafasku menjadi sesak dan kepalaku semakin berat.
Saat itu sempat terbersit tanya "Apakah seperti ini saat aku sakaratul maut kelak ?" Dan kemudian aku terlelap.
Aku merasakan dingin yang teramat dan perlahan aku membuka mataku, kutemukan senyum adikku karena hanya dia yang ada diruangan itu.
Sekitar satu setengah jam aku tertidur dan kata adik, operasinya berlangsung satu jam lebih sedikit.
“Alhamdulillah…..”kataku antara sisa kantuk yang masih menggantung di kelopak mataku.
Aku kedinginan, aku ingin segera ke kamar.....namun aku harus sedikit menahan inginku itu karena aku dirasa belum tersadar betul.
Lain Rumah Sakit ternyata lain prosedur…..”Dulu tidak begini...” bathinku.
Aku tetap memejamkan mata karena semua masih tampak goyah.
Aku merasa kuat untuk duduk, aku berganti pakaian dan aku didorong dengan kursi roda menuju kamar perawatanku, Jalak 4.
”Adek sudah sadar ?” kubaca pesan singkat itu dari Abang, dikirim beberapa menit setelah aku berbaring dan berselimut.
Aku membalasnya ”Alhamdulillah sudah Bang.....operasinya lancar dan tinggal nunggu hasilnya lab-nya.”
”Alhamdulillah.....do’a Abang selalu buatmu Dek.” itu balasan Abang.
Belum selesai aku menulis balasan, masuk pesan singkat dari Abang kembali, ”Bisa terima telpon Dek ? Abang ingin mendengar suara Adek....”
”Insyaallah bisa, Bang !” balasku.
Dan tidak berapa lama hapeku menderingkan ”Sholawat Nabi” nada dering yang aku khususkan untuk Abang.
Aku mengucapkan salam dan dijawab dengan takzim oleh Abang.
”Insyaallah Adek akan baik-baik saja.....tetap sabar jalani tiap takdir Allah ya Dek !?” kata Abang setelah menanyakan keadaanku.
”Insyaallah Bang....” jawabku pelan, dan tanpa terkendali mataku telah berbayang air.
”Abang yakin Adek kuat.....tegar jalani tiap jengkal kehidupan....” kata Abang menenangkan.
Aku terdiam mendengarkan.
”Abang ingin ada disamping Adek saat ini.....menggenggam tangan Adek, mengusap keringat Adek, merawat dan menyeka tubuh Adek.....” katanya penuh harap dan jua penyesalan.
”Do’akan saja Adek Bang....!” kataku mencoba memahami semua yang sedang terjadi kini.
Setelah itu aku merasa ada kehangatan yang menjalari tubuhku dan ada kebahagiaan yang terselip antara luka nyeri di dadaku.....meski aku merasa sesak dengan bebatan ini.
Aku bertahan, aku menjaga, aku terhijabi dan aku memasung diri......dengan rasa yang telah kutanam selama ini.
Aku cinta, aku sayang dan akan seterusnya rasa itu menyelubungi jiwaku.
Tak ada yang bisa merubahnya.....meski hujan sebentuk badai sekalipun.
Tak ada yang mampu menghapusnya......meski lengkung pelangi tak selalu hadir di senja hari.
Tak jua bisa terkurangi meski tiada janji yang bisa berikan rasa hakiki.
Semua telah tertulis….. semua telah terbukukan….. 

Dan hujan kembali turun mengguyur pertamanan di luar kamar…..menyejukkan pepohonan dan menyiram tanah yang kering.
Lalu aku kembali lelap dalam dekapan kerinduan……..