Hujan, dan koridor Rumah Sakit tampak basah dan licin.
Rinainya senada dengan tetesan infus yang terpasang di lenganku.
“Sabar Dek !” suara lembut itu mampu membuat mataku terbuka…..aku melihat sekelilingku, tapi Abang tidak ada disini.
“Adek Abang selalu bersemangat…..harus tetep kuat ya !?” suara itu kembali menggema dan aku ingat itu kata-katanya tadi waktu menelpon…..dan aku masih saja berharap Abang ada disini saat ini.
Aku menatap lenganku yang terbebat dan tertancap jarum infus.
“Bisakah ini yang terakhir ?” gumamku lirih. Ada bayangan senyumnya, candanya dan celotehnya….. “Maafkan aku…..aku meninggalkanmu Bidadariku !” kata
Ketukan pelan di pintu memaksaku untuk menjawabnya.....dan kulihat seorang perawat datang dengan mendorong kursi roda.
“Persiapan operasi ya Mbak…..ganti baju dulu !” kata perawat itu ramah.
Aku nurut dan aku diam saja saat pakaianku dilepas dan digantikan oleh seragam pasien operasi warna hijau.
”Simbol Jannah....” kataku dalam hati. ”Apa bila operasi gagal mereka mengharapkan pasien untuk langsung ke surga ?” bathinku lagi dengan perasaan geli, dan aku tersenyum.
”Maaf Mbak, karena ruangan steril Mbak harus melepas kerudungnya...!” kata perawat itu dan lagi-lagi aku menurut saja. Pastilah Allah memakluminya, karena ini bukan kesengajaanku memperlihatkan auratku.
Selesai aku berpakaian, aku duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat itu menuju ruang operasi dan diikuti jua oleh adikku, satu-satunya penungguku dan bertanggung jawab atas tindakan operasiku saat itu.
Di ruang operasi sudah menunggu beberapa dokter yang akan mengerjakan operasi tersebut.
Dokter bedahku menyapa ramah dan tersenyum lebar.....dan itu menenangkan.
Lalu aku berbaring, lampu mulai dinyalakan dan beberapa alat yang merupakan protap sebuah operasi juga dipasang.....di dada, di punggung, di lengan atas juga dikaki.
”Siapa yang masang infus Mbak, kan tidak harus dikiri ?” tanya salah satu dokter kepada perawat yang sedang memakaikan tutup kepalaku.
Dan sudah barang tentu si Mbak-nya bilang tidak tahu padahal aku tahu dia ada disana saat pemasangannya.
Itulah manusia, tidak ada yang berbesar hati mengakui kesalahannya, kebanyakan ingin pembenaran dan memilih menghindar dari kesalahan yang nyata-nyata telah dibuatnya.
Tapi aku tidak mempedulikan hal itu, mau salah atau tidak yang penting tidak harus mengulang dan saat itu aku terlalu sibuk dengan hatiku. Aku berusaha menenangkannya dengan Asma’ul Husna, mengatur detakanku dengan Sholawat dan menjaga nafasku dengan dzikir.
”Mbak ada penyakit sesak ?” tanya dokter dan aku menggeleng, ”Sakit maag ?” tanyanya lagi dan kali ini aku mengangguk.
Berdo’a ya Mbak, akan mulai dibius....” kata dokter kemudian.
Aku hanya sempat melihat dua kali suntikan ke selang infusku, padahal dokter membawa beberapa spuit yang kutahu lebih dari dua jumlahnya, dan aku mulai merasakan sensasinya.
Kedua lenganku terasa ngilu dan linu, sangat pegal. Kemudian nafasku menjadi sesak dan kepalaku semakin berat.
Saat itu sempat terbersit tanya "Apakah seperti ini saat aku sakaratul maut kelak ?" Dan kemudian aku terlelap.
Aku merasakan dingin yang teramat dan perlahan aku membuka mataku, kutemukan senyum adikku karena hanya dia yang ada diruangan itu.
Sekitar satu setengah jam aku tertidur dan kata adik, operasinya berlangsung satu jam lebih sedikit.
“Alhamdulillah…..”kataku antara sisa kantuk yang masih menggantung di kelopak mataku.
Aku kedinginan, aku ingin segera ke kamar.....namun aku harus sedikit menahan inginku itu karena aku dirasa belum tersadar betul.
Lain Rumah Sakit ternyata lain prosedur…..”Dulu tidak begini...” bathinku.
Aku tetap memejamkan mata karena semua masih tampak goyah.
Aku merasa kuat untuk duduk, aku berganti pakaian dan aku didorong dengan kursi roda menuju kamar perawatanku, Jalak 4.
”Adek sudah sadar ?” kubaca pesan singkat itu dari Abang, dikirim beberapa menit setelah aku berbaring dan berselimut.
Aku membalasnya ”Alhamdulillah sudah Bang.....operasinya lancar dan tinggal nunggu hasilnya lab-nya.”
”Alhamdulillah.....do’a Abang selalu buatmu Dek.” itu balasan Abang.
Belum selesai aku menulis balasan, masuk pesan singkat dari Abang kembali, ”Bisa terima telpon Dek ? Abang ingin mendengar suara Adek....”
”Insyaallah bisa, Bang !” balasku.
Dan tidak berapa lama hapeku menderingkan ”Sholawat Nabi” nada dering yang aku khususkan untuk Abang.
Aku mengucapkan salam dan dijawab dengan takzim oleh Abang.
”Insyaallah Adek akan baik-baik saja.....tetap sabar jalani tiap takdir Allah ya Dek !?” kata Abang setelah menanyakan keadaanku.
”Insyaallah Bang....” jawabku pelan, dan tanpa terkendali mataku telah berbayang air.
”Abang yakin Adek kuat.....tegar jalani tiap jengkal kehidupan....” kata Abang menenangkan.
Aku terdiam mendengarkan.
”Abang ingin ada disamping Adek saat ini.....menggenggam tangan Adek, mengusap keringat Adek, merawat dan menyeka tubuh Adek.....” katanya penuh harap dan jua penyesalan.
”Do’akan saja Adek Bang....!” kataku mencoba memahami semua yang sedang terjadi kini.
Setelah itu aku merasa ada kehangatan yang menjalari tubuhku dan ada kebahagiaan yang terselip antara luka nyeri di dadaku.....meski aku merasa sesak dengan bebatan ini.
Aku bertahan, aku menjaga, aku terhijabi dan aku memasung diri......dengan rasa yang telah kutanam selama ini.
Aku cinta, aku sayang dan akan seterusnya rasa itu menyelubungi jiwaku.
Tak ada yang bisa merubahnya.....meski hujan sebentuk badai sekalipun.
Tak ada yang mampu menghapusnya......meski lengkung pelangi tak selalu hadir di senja hari.
Tak jua bisa terkurangi meski tiada janji yang bisa berikan rasa hakiki.
Semua telah tertulis….. semua telah terbukukan…..
Dan hujan kembali turun mengguyur pertamanan di luar kamar…..menyejukkan pepohonan dan menyiram tanah yang kering.
Lalu aku kembali lelap dalam dekapan kerinduan……..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar