Selasa, 10 April 2012

Aku Mencintaimu Mbak........


Senja itu ditepian pantai.

Hanya ada beberapa saja yang tampak bermain-main dengan ombaknya, diantaranya berada dalam laut, yang lain lebih senang bermain-main dengan ombaknya, sementara aku hanya duduk saja di bawah pohon waru.

Entah apa yang membawaku kesini…..mungkin hanya ingin penuhi rasa rinduku saja pada gemuruhnya, pada lincah riaknya dan terpaan angin di wajahku.

“Mbak !” kudengar suara panggilan didekatku dan reflek aku menoleh kearah sumber suara. Kudapati sosok laki-laki yang sedang tersenyum lebar kepadaku dan aku spontan mengernyitkan dahi, mencoba mengenalinya, namun sudah beberapa detik berlalu aku tetap tidak bisa menemukannya dalam rekaman ingatanku.

“Mbak lupa ?” tanyanya kemudian karena reaksiku tetap sama setelah beberapa saat menatapnya.

“Siapa ?” tanyaku kemudian.

“Dulu aku dan teman-teman suka minta air tiap selesai main sepak bola di lapangan…” jelasnya seraya duduk di dekatku.

Aku terdiam, mencoba kembalikan ingatanku pada beberapa waktu kebelakang. Memang dulu waktu belum pindah, anak-anak seusai main sepak bola suka ke rumah untuk minta air minum, dan waktu itu banyak yang kerumah.

“Dan Mbak suka menambahkan es batu pada minumanku….!” jelasnya lebih lanjut.

Aku terhenyak dan dengan cepat memalingkan wajah menatap dirinya, karena aku teringat pada satu orang yang kuperlakukan agak khusus pada waktu itu.

“Kamu…?” aku tergetar menatap wajahnya, perpaduan antara terkejut, tidak menyangka namun juga senang

“Iya Mbak…. Ini aku…” katanya dengan tersenyum.

”Kamu sudah besar sekarang dan terlehat beda....” kataku membalas senyumnya setelah meneliti baik-baik dirinya.

”Memangnya dulu aku kecil Mbak ?” tanyanya sambil tertawa.

”Iya, aku melihatnya begitu......karena yang kamu ajak main bola kebanyakan anak kecil.” jawabku sambil tertawa kecil.

Lalu cerita pun mengalir, dimana hampir tiap sore dia ke lapangan bersama teman-temannya dan selalu kerumah untuk meminta air minum. Entah bagaimana awalnya hingga bisa anak-anak itu berani untuk bertandang dan meminta air minum.

”Sudah sore....” kataku saat melihat semburat jingga menyentuh laut di ujung barat. Aku bangkit dan membersihkan tas dipenuhi pasir pada sisinya.

”Mbak sekarang dimana ?” tanyanya sambil ikut berdiri juga.

”Aku pindah dekat sini, tidak dilapangan lagi.” kataku sambil melangkah dan dia mengikutiku pelan.

”Bahkan aku tidak tahu siapa nama Mbak.....?” kata-katanya itu mampu menghentikan langkahku.

Aku menoleh dan menatapnya lurus.....”Aku Husna.....” jawabku pelan.

”Hanif......!” katanya memperkenalkan namanya.

Sudah dari dulu aku mengakrabinya dan baru sekarang aku tahu siapa namanya, dan dia pun begitu.

”Assalamu’alaikum......!” kataku kemudian dan kembali melangkahkan kakiku untuk pulang. Dan samar kudengar jawaban salam darinya.

^_^gLd^_^

Suatu senja lagi masih di tepian pantai.

            Terlihat ramai dari biasanya, banyak anak-anak bahkan ada yang memainkan bola dipantainya yang basah dan sesekali harus terhampas karena terpaan ombaknya. Mereka tampak bahagia sekali dan kudengar tawa yang seakan tiada beban apa-apa.

            Aku tetap memilih duduk dibawah pohon waru dan terus memperhatikan makhluk kecil yang terus berteriak-teriak kegirangan saat mengejar kepiting laut. Dengan lincah

            ”Assalamu’alaikum....” kudengar sapa salam yang terdengar dekat dariku duduk.

            ”Wa’alaikumsalam....” kataku menjawab salamnya sambil menoleh kearahnya dan ternyata itu Hanif.

            ”Tidak sering ya kesini ?” tanya Hanif sambil duduk di dekat kakiku, lalu aku menarik kakiku dan menekuknya.

            ”Iya, hanya bila ingin kesini saja....”jawabku pelan.

            ”Beberapa hari ini aku sering kesini.....dan baru kali ini bisa bertemu lagi.” katanya kemudian.

            ”Adek, jangan dekat-dekat airnya !” teriakku pada anak kecil yang asyik mengejar-ngejar kepiting kecil itu.

            ”Siapa ?” tanya Hanif sangat ingin tahu.

            ”Anakku.....” jawabku sambil tersenyum padanya.

            Dan untuk beberapa saat kami berdiam diri, entah apa yang ada dalam pikirannya ? hanya saja aku merasakan ada perubahan, terlihat dari bahasa tubuhnya.

            Anakku berlari kearahku dan tanpa ragu-ragu menabrakkah tubuhnya dalam dekapanku, dia tersenyum saat kami saling menatap.

            ”Adek, beri salam pada Om !” kataku sambil menyingkirkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya karena tertiup angin pantai.

            ”Ini Aisyah....” kataku memperkenalkan nama anakku. Lalu kulihat dia menyambut uluran tangan Aisyah dan Aisyah pun mencium punggung tangannya.

            ”Cantik.....dan kulihat sorot cerdas dari matanya.” kata Hanif setelah Aisyah mulai berlarian lagi di tepian pantai.

            ”Terimakasih....” kataku sambil tersenyum bangga menatap putri kecilku. ”Kamu gimana ?” aku menanyakan kehidupannya saat ini.

            ”Aku....belum. Aku kesini justru ingin menjemputnya, tapi.......” dia menjawab dengan terbata dan terputus.

            ”Tapi apa ?” tanyaku semakin penasaran.

            ”Sepertinya sudah terlambat......” jawabnya pelan sambil tersenyum yang dia paksakan.

            ”Mungkin tidak berjodoh.” ujarku sambil tersenyum menatapnya.

            Dan dia kembali terdiam, lalu aku bangkit dan menghampiri putri kecilku yang sedang membuat bangunan dari pasir pantai, dan aku tersedot dalam dunianya meski sesekali melihat ke arah Hanif yang tetap bergeming dari tempatnya duduk.   

^_^gLd^_^

Di terminal, beberapa lama setelah sore itu di pantai.

            “Husna !” kuhentikan langkahku dan mencari-cari orang yang memanggilku diantara deretan bis dan bemo, juga hiruk pikuk orang-orang di terminal itu.

            Aku melihat Hanif berlari kecil dan menghampiriku lalu menuntunku untuk menepi.

            “Aku akan pergi.....!” katanya kemudian, dan aku diam mendengarkan karena aku merasa dia belum selesai dengan ucapannya.

            ”Aku sudah tahu.....!” dia berkata agak keras karena saat itu ada bis yang melewati kami keluar dari terminal.

            ”Aku sudah tahu !” ulangnya kemudian karena tidak mendapati reaksi apa-apa dariku.

            ”Tahu apa ?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.

            ”Kamu......sudah pisah dengan suamimu.!” katanya pelan namun penuh ketegasan.

            Aku tidak terkejut mendengarnya, hanya saja aku tidak tahu apa maksudnya dengan mengatakan hal itu padaku.

            ”Kenapa kamu tidak cerita ?” tanyanya dengan rasa kecewa.

            ”Untuk apa ? Ini urusan pribadi Husna....” jawabku pelan.

            ”Tapi aku peduli.....” ucapannya kali ini menghentikan detakanku untuk sesaat. ”Tujuanku kesini adalah mencarimu, mencoba menemukan Mbak-ku yang sangat baik padaku waktu itu......memang hanya segelas air es, tapi aku melihatnya lebih dari itu....” kata-kata yang meluncur dari bibirnya benar-benar tidak bisa kupercaya.

            ”Aku memang terlambat........tapi aku tidak ingin menyesal seumur hidupku, aku tetap peduli sama kamu, Husna...” ucapnya penuh keyakinan.

            ”Pergilah, nanti kamu terlambat....” kataku menghindari sorotnya yang tajam.

            ”Husna, aku akan pergi.....Insyaallah aku akan kembali untuk menjemputmu....” bisiknya pelan ditelingaku. ”Peganglah ini....!” dia menyerahkan tasbih untuk kugenggam.

            Aku terpaku, tidak menyangka dan tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar darinya.

            ”Aku berangkat Husna....” katanya mengagetkanku, dan aku jadi heran kenapa aku merasa kehilangan saat dia berpamitan.

            ”Salam buat Aisy..... Insyaallah Ayah akan datang menjemput setelah semua siap disana....” katanya lagi dan aku sekuat tenaga menahan agar air mata ini tidak keluar.

            Hanif menuntunku kembali dan menghentikan bemo warna biru untukku, lalu mempersilahkan aku naik.

            ”Hati-hati ya, nanti aku kabari.....Assalamu’alaikum.” katanya saat aku sudah duduk dalam bemo yang akan mengantarkanku pulang dari kerja.

            Dari kaca belakang bemo kuperhatikan Hanif melambaikan tangan dan tersenyum lebar padaku, dan aku sudah tidak mampu membendung air mata ini lebih lama lagi.....aku menangis dan kudekap untaian tasbih itu erat di dadaku.

            Saat kuseka air mataku, kurasakan getaran dari dalam tasku, kuambil telpon genggamku dan kulihat ada pesan singkat masuk dari nomer baru.

            ”Aku mencintaimu, Mbak.....” itu pesan singkat yang kubaca dan diakhiri dengan smiley senyum.

            ”Hanif.....” ucapku lirih sambil tersenyum.
           
           





Selasa, 03 April 2012

I haVe to mOve oN


Hujan, dan koridor Rumah Sakit tampak basah dan licin.
Rinainya senada dengan tetesan infus yang terpasang di lenganku.
“Sabar Dek !” suara lembut itu mampu membuat mataku terbuka…..aku melihat sekelilingku, tapi Abang tidak ada disini.
“Adek Abang selalu bersemangat…..harus tetep kuat ya !?” suara itu kembali menggema dan aku ingat itu kata-katanya tadi waktu menelpon…..dan aku masih saja berharap Abang ada disini saat ini.
Aku menatap lenganku yang terbebat dan tertancap jarum infus.
“Bisakah ini yang terakhir ?” gumamku lirih. Ada bayangan senyumnya, candanya dan celotehnya….. “Maafkan aku…..aku meninggalkanmu Bidadariku !” kata
Ketukan pelan di pintu memaksaku untuk menjawabnya.....dan kulihat seorang perawat datang dengan mendorong kursi roda.
“Persiapan operasi ya Mbak…..ganti baju dulu !” kata perawat itu ramah.
Aku nurut dan aku diam saja saat pakaianku dilepas dan digantikan oleh seragam pasien operasi warna hijau.
”Simbol Jannah....” kataku dalam hati. ”Apa bila operasi gagal mereka mengharapkan pasien untuk langsung ke surga ?” bathinku lagi dengan perasaan geli, dan aku tersenyum.
”Maaf Mbak, karena ruangan steril Mbak harus melepas kerudungnya...!” kata perawat itu dan lagi-lagi aku menurut saja. Pastilah Allah memakluminya, karena ini bukan kesengajaanku memperlihatkan auratku.
Selesai aku berpakaian, aku duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat itu menuju ruang operasi dan diikuti jua oleh adikku, satu-satunya penungguku dan bertanggung jawab atas tindakan operasiku saat itu.
Di ruang operasi sudah menunggu beberapa dokter yang akan mengerjakan operasi tersebut.
Dokter bedahku menyapa ramah dan tersenyum lebar.....dan itu menenangkan.
Lalu aku berbaring, lampu mulai dinyalakan dan beberapa alat yang merupakan protap sebuah operasi juga dipasang.....di dada, di punggung, di lengan atas juga dikaki.
”Siapa yang masang infus Mbak, kan tidak harus dikiri ?” tanya salah satu dokter kepada perawat yang sedang memakaikan tutup kepalaku.
Dan sudah barang tentu si Mbak-nya bilang tidak tahu padahal aku tahu dia ada disana saat pemasangannya.
Itulah manusia, tidak ada yang berbesar hati mengakui kesalahannya, kebanyakan ingin pembenaran dan memilih menghindar dari kesalahan yang nyata-nyata telah dibuatnya.
Tapi aku tidak mempedulikan hal itu, mau salah atau tidak yang penting tidak harus mengulang dan saat itu aku terlalu sibuk dengan hatiku. Aku berusaha menenangkannya dengan Asma’ul Husna, mengatur detakanku dengan Sholawat dan menjaga nafasku dengan dzikir.
”Mbak ada penyakit sesak ?” tanya dokter dan aku menggeleng, ”Sakit maag ?” tanyanya lagi dan kali ini aku mengangguk.
Berdo’a ya Mbak, akan mulai dibius....” kata dokter kemudian.
Aku hanya sempat melihat dua kali suntikan ke selang infusku, padahal dokter membawa beberapa spuit yang kutahu lebih dari dua jumlahnya, dan aku mulai merasakan sensasinya.
Kedua lenganku terasa ngilu dan linu, sangat pegal. Kemudian nafasku menjadi sesak dan kepalaku semakin berat.
Saat itu sempat terbersit tanya "Apakah seperti ini saat aku sakaratul maut kelak ?" Dan kemudian aku terlelap.
Aku merasakan dingin yang teramat dan perlahan aku membuka mataku, kutemukan senyum adikku karena hanya dia yang ada diruangan itu.
Sekitar satu setengah jam aku tertidur dan kata adik, operasinya berlangsung satu jam lebih sedikit.
“Alhamdulillah…..”kataku antara sisa kantuk yang masih menggantung di kelopak mataku.
Aku kedinginan, aku ingin segera ke kamar.....namun aku harus sedikit menahan inginku itu karena aku dirasa belum tersadar betul.
Lain Rumah Sakit ternyata lain prosedur…..”Dulu tidak begini...” bathinku.
Aku tetap memejamkan mata karena semua masih tampak goyah.
Aku merasa kuat untuk duduk, aku berganti pakaian dan aku didorong dengan kursi roda menuju kamar perawatanku, Jalak 4.
”Adek sudah sadar ?” kubaca pesan singkat itu dari Abang, dikirim beberapa menit setelah aku berbaring dan berselimut.
Aku membalasnya ”Alhamdulillah sudah Bang.....operasinya lancar dan tinggal nunggu hasilnya lab-nya.”
”Alhamdulillah.....do’a Abang selalu buatmu Dek.” itu balasan Abang.
Belum selesai aku menulis balasan, masuk pesan singkat dari Abang kembali, ”Bisa terima telpon Dek ? Abang ingin mendengar suara Adek....”
”Insyaallah bisa, Bang !” balasku.
Dan tidak berapa lama hapeku menderingkan ”Sholawat Nabi” nada dering yang aku khususkan untuk Abang.
Aku mengucapkan salam dan dijawab dengan takzim oleh Abang.
”Insyaallah Adek akan baik-baik saja.....tetap sabar jalani tiap takdir Allah ya Dek !?” kata Abang setelah menanyakan keadaanku.
”Insyaallah Bang....” jawabku pelan, dan tanpa terkendali mataku telah berbayang air.
”Abang yakin Adek kuat.....tegar jalani tiap jengkal kehidupan....” kata Abang menenangkan.
Aku terdiam mendengarkan.
”Abang ingin ada disamping Adek saat ini.....menggenggam tangan Adek, mengusap keringat Adek, merawat dan menyeka tubuh Adek.....” katanya penuh harap dan jua penyesalan.
”Do’akan saja Adek Bang....!” kataku mencoba memahami semua yang sedang terjadi kini.
Setelah itu aku merasa ada kehangatan yang menjalari tubuhku dan ada kebahagiaan yang terselip antara luka nyeri di dadaku.....meski aku merasa sesak dengan bebatan ini.
Aku bertahan, aku menjaga, aku terhijabi dan aku memasung diri......dengan rasa yang telah kutanam selama ini.
Aku cinta, aku sayang dan akan seterusnya rasa itu menyelubungi jiwaku.
Tak ada yang bisa merubahnya.....meski hujan sebentuk badai sekalipun.
Tak ada yang mampu menghapusnya......meski lengkung pelangi tak selalu hadir di senja hari.
Tak jua bisa terkurangi meski tiada janji yang bisa berikan rasa hakiki.
Semua telah tertulis….. semua telah terbukukan….. 

Dan hujan kembali turun mengguyur pertamanan di luar kamar…..menyejukkan pepohonan dan menyiram tanah yang kering.
Lalu aku kembali lelap dalam dekapan kerinduan……..












Senin, 12 Maret 2012

Anakku.....jadilah Bidadariku dan BidadariNya

Aku pernah merasa bahwa aku tidak akan bertahan lebih lama. Aku merasa sangat lemah dalam raga ini dan begitu ringkihnya hingga aku harus tersungkur beberapa kali, tapi aku bersyukur bidadariku tak pernah melihatku dalam keadaan tak berdaya, karena aku pun ingin tampak kuat dimatanya. Pada penglihatannya hanya akan ketabahan dan kesabaran saja yang tampak, meski kelak dia pun akan menyadari bahwa tidak apa-apa dengan air mata. 

Semalam aku begitu terpana dengan tubuh ini, sudah banyak bekas goresan pisau operasi, dan aku masih ingat betul wajah-wajah tim dokternya, meski aku yakin mereka tak sedikitpun mengingatku. Dan sekarang, ruang operasi sudah mulai terancang dalam alam pikiranku. Aku mulai membayangkan diriku tak berdaya ditangan-tangan para dokter.

Aku mengusap kening bidadariku dan aku mulai berair mata….. Aku tidak menangisi takdirku, aku hanya tak bisa kendalikan keinginanku untuk bisa menemaninya lebih lama. Aku hanya tidak mau berakhir pada saat bidadariku masih kecil, aku masih ingin bersamanya…..dan semoga Allah tidak menggariskan mautku dalam waktu dekat ini.

Aku masih belum banyak mengenalkanMu pada bidadariMu, aku masih sedikit memberikan ilmuMu…..aku masih ingin membekalinya lebih banyak lagi agar dia kuat berjalan antara mereka yang tidak semuanya menyadari Iman dan Islam.

Nak, bila engkau besar kelak….engkau akan tahu bagaimana perjuanganku untuk tetap bersamamu ? Janganlah takut sayang, aku akan selalu ada bersamamu, meski aku harus pergi meninggalkanmu.
Nak, hidup itu keras, kejamnya sempat melukaiku berkali-kali…..dan kamu harus tetap kuat, tidak cengeng seperti aku.

Tetaplah buka mata hatimu, waspadai para munafik yang hanya ingin terlihat indah saja dimatamu……jangan mencari musuh karena dia akan tampak dengan sendirinya dihadapanmu, dan ketahuilah Nak, waktu akan memilah dan mimilihkan dan menyisakan yang terbaik saja untukmu. Yakinlah saja Nak, bila kita niatkan untuk menggapai Ridha Allah, maka semuanya akan baik-baik saja.

Nak, engkau bidadari Allah yang Dia turunkan untuk mentawarkan segala duka. Engkau sangat istimewa karena engkau hadir diantara do’a-do’a indah yang dimunajatkan dengan hati yang tulus. Engkau tidak meminta untuk dilahirkan namun kamilah yang meminta kedatanganmu…..dan dengan mendekapmu kini aku pun merasa begitu sempurna dan merasa istimewa karena dipilihNya untuk menjagai salah satu bidadari surgaNya.

Nak, setiap saat kuoerhatikan parasmu, aku selalu kagum dalam hati “Engkau cantik…. Engkau makhluk Allah yang sangat cantik. Aku yakin Allah telah membentukmu selama dalam kandunganku hingga memiliki kecantikan itu.” Dan sering aku lontarkan ucapan “Adek kok cantik sih ?” dan engkau hanya tersenyum saja.

Tapi Nak, kecantikan yang kamu miliki akan semakin berkurang kelak, dan kecantikan hatimulah yang kekal bahkan sampai saat kamu tiada. Percantiklah jiwamu Nak, hiasi selalu hatimu dengan firman-firman Allah. Hijabi auratmu dengan iman dan Islam, semua itu yang akan menyelamatkanmu dunia akhirat, semuanya itu yang akan menempatkanmu di JannahNya.

Ingatlah Nak, tidak ada kebahagiaan yang bisa kau rasakan bila kau mendapatkannya dengan cara buruk, tidak dibenarkan menyakiti demi mendapatkan keinginan sendiri, tidak boleh melukai hanya untuk membela kata hati sendiri. Kita tidak hidup sendiri Nak, kita pun memerlukan kehadiran mereka.

Anakku, bidadari kecilku, aku sangat ingin menyampaikan semua itu dengan lisanku, dengan ucapanku saat kita bicara berdua saja. Aku tidak ingin kau mengetahuinya dari orang lain juga dari tulisan ini, betapa aku mencintaimu sebagai balasan cinta Allah kepadaku.
Aku masih ingin jagai tidur malammu, aku masih ingin memandikanmu, mandi berendam bersamamu…..aku masih ingin bergulingan di rumput denganmu, bermain pasir membangun benteng dan istana kecil kita. 

Nak, jika takdir tidak seperti yang kita inginkan, ketahuilah itu hanya ujian yang akan makin menguatkan iman kita, jangan menyerah sayang…..mamah disini jagaimu.    




Rabu, 03 Agustus 2011

SELUBUNG HIJABKU


oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 04 Agustus 2011 jam 13:14
Teman kantorku pernah ada yang bertanya, “Kenapa kamu selalu pakai kerudung ?” dan aku tersenyum saja mendapat pertanyaan semacam itu karena aku tahu temanku tadi adalah non muslim yang pemahamannya pada jilbab diartikannya sama dengan baju adat yang dikenakan hanya pada saat beribadah atau pada acara-acara formal tertentu saja.

Dia tidak tahu dan aku pun tidak memaksakan agar dia bisa mengerti bahwa kerudungku ini adalah bagian dari pakaianku, dan bila aku tidak memakainya sama halnya dengan aku berpakaian dengan tidak lengkap dan itu artinya aku telanjang.

Mungkin sekarang lagi model pakaian yang serba minim, minim bahan dan minim jahitan. Tapi aku tetap punya pilihan untuk tidak memilih pakaian yang seperti itu, karena setahuku pakaianku haruslah menutup aurat.

Aku memutuskan untuk berjilbab saat aku mendapatkan seruannya dalam mimpiku suatu malam. Aku hanya mendengar suara saja “Akan lebih baik bila ini tertutup….”

Suara agung itu tanpa aku tahu siapa pemiliknya, dan ku akui aku berhijab sejak aku mendapatkan mimpi itu. Namun kini aku tahu harusnya aku berkerudung tanpa harus ada alasan tertentu dan dengan sebab tertentu pula karena hijab adalah perintahNya dan kita harusnya mematuhinya sebagai muslimin.

Aku berhijab bukan untuk menyembunyikan kekurangan yang mereka bicarakan selama ini, pun tidak agar disebut “alim” atau apa pun itu. Karena aku tahu mereka sangat tidak mengerti bentuk takzimku, dan aku pun sadar tidak semua orang bisa memahami bagaimana aku menjalani ke-Islam-anku.

Aku hanya menjalankan perintah Rabb-ku saja yang menjaga apa-apa yang dianugerahkanNya padaku hanya untuk yang halal melihatku, karena aku tahu tubuh ini adalah sumber fitnah dari segala arah.

Dengan berhijab bukan lantas aku berhak menyandang predikat sebagai orang suci, karena sesungguhnya hati manusia sangatlah lemah. Ada banyak hal yang melemahkannya dan ada berbagai cara yang membuatnya menjauh dari Iman jua Islam.

Ibadahku tidak sempurna, hatikupun kadang terselimuti keluh, aku berserah namun aku tetap merasakan kecemasan, aku memberi namun ingin diketahui yang lainnya, aku hina berkubang dosa.

Kuingat-ingat berapa banyak ku keluarkan air mata namun aku tak pernah menghitung berapa besar nikmat yang diberikan atas kasih dan sayangNya padaku.

Kuingat benar berapa kali luka goreskan duka yang sangat mendalam hingga sempat kubertanya padaNya “Kenapa ? Kenapa harus aku yang mengalaminya ?!” dan aku terlalu sibuk dengan itu hingga tak memperhatikan orang-orang disekitarku yang akhirnya ku tahu penderitaan mereka lebih dahsyat dari yang kurasa.

Rabb, aku tak hanya lemah, aku benar-benar tak berdaya dengan mengingkari semua yang kulihat, kudengar dan kurasakan.

Taubat nasuha, Insyaallah bisa mengembalikanku pada RahmatNya, dengan ibadah, ikhtiar, dan tetap istiqomah karena semua jalan akhirnya akan bermuara padaNya kelak.

Hanya berharap kesabaran dan ketabahan jua keikhlasan atas segala yang terjadi, karena aku tahu semua sudah tercatat pada Lauhul Mahfudz-ku ?

· · Bagikan · Hapus

Selasa, 03 Mei 2011

AKU dan KALIAN (lingkar hidup yang tak terpisahkan)


oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 04 Mei 2011 jam 13:33


Aku kadang berpikir, kenapa bisa begitu dekat dengan orang lain selayaknya saudara sendiri ? Aku juga selalu berpikir, bagaimana mungkin aku dan mereka bisa seakrab ini tanpa pernah bertemu ?
Tapi seiring bergantinya hari, aku jadi tahu kenapa semua yang terpikirkan itu bisa terjadi ? …

Ada banyak hal yang mempengaruhi kualitas pertemanan….salah satunya adalah kualitas hidup kita sendiri. Bagaimana kita menyikapi hidup dan bagaimana tingkat kedewasaan kita ? Semua lingkar yang terlibat dalam hidup kita sangat berperan dalam membangun pribadi kita…namun kualitas hidup pribadi-pribadi yang terlibat tetap menentukan apakah hubungan itu akan baik, tetap berjalan atau kandas begitu saja…. Dan sekali lagi, waktu yang akan mengujinya.

Setiap hubungan, apapun bentuknya, harus memasukkan rasa “saling”…. Saling menghormati, saling menghargai, saling menjaga perasaan….dan kalau itu sudah tertanam akan menyusul saling-saling yang lainnya….saling ledek, saling hina, saling olok (dan itu akan dengan sendirinya keluar tanpa ada yang tersakiti…:D)

Bahkan akan muncul “ketergantungan” karena kebiasaan yang kita lakukan sehari-harinya bersama mereka….kita jadi merasa sepi tanpa kehadirannya (chat dengan berbagai fasilitas yang tersedia) kita jadi ingin tahu apakah mereka baik-baik saja (bila terbaca “keluh” pada status yang dibuatnya).

Tapi aku  pribadi, mencoba membatasi dengan kehidupan mereka, karena aku sadar tidak semua orang nyaman membicarakan hal-hal pribadi yang memang seharusnya terturupi rapat-rapat. Namun aku juga tahu “berbagi itu indah” paling tidak akan melegakan dan sedikit mengangkat beban yang seakan-akan menghimpit dan menyesakkan dada.

Tak sedikit yang cerita dan aku akan menjaganya sebaik-baik percaya kalian padaku untuk menggenggam kisah hidup kalian itu. Aku merasa berempati, dan mungkin aku tidak bisa selalu menunjukkan jalan keluarnya, namun setidaknya aku bisa kembali mengangkat hati dan pikiran kalian untuk tetap bersemangat menjalani hidup…

Mungkin aku hanya bisa bicara, dan aku pun tidak memaksa untuk didengar….bila kalian menilai itu baik untuk hidup kalian, maka lakukanlah, namun bila dirasa tidak benar maka abaikan saja.

Aku bukan orang bijak seperti yang pernah tersebutkan…. Aku hanya bilang apa adanya, seperti yang kupikirkan dan apa yang diucapkan kata hatiku saja.

Pengalaman akan membentuk  pribadi yang kuat, itu bagi mereka yang mau belajar. Dan aku berusaha selalu mencerna apa yang yang terjadi dan mengingat bagaimana reaksi semua pihak yang terlibat.

Sakit memang kerap menyergap…aku pun tak malu mengakui bahwa diriku cengeng. Aku menangis tiap berkeluh padaNya, dan aku hanya bisa diam dengan sabda-sabda suci yang aku resapi selama ini.
Allah menyayangi umatNya dengan cobaan-cobaan dan aku tahu aku harus bersabar, begitu pun kalian.

Aku sudah kenal dengan sakit bahkan sebelum aku tahu apa makna sakit yang sebenarnya…. Aku tidak menolak karena aku tahu ini bukan pilihanku. Aku hanya harus tetap berjalan saja dengan kuat yang telah Allah tetapkan padaku. Dan Allah Maha Tahu….dengan tepat Dia ukur kemampuan tiap-tiap hambaNya. Jadi berdo’alah minta kesabaran lebih, karena sesungguhnya kita mampu hadapinya….hanya masalah waktu saja, karena itu harus bersabar.

Berserah adalah bentuk kepasrahan setelah berusaha…dan apapun hasilnya kita harus bisa terima dan jua ikhlas. Karena Allah pasti hanya memberi yang terbaik pada umatNya, meskipun itu kalian rasa buruk.

Heuheuuuu…..jadi ngawur kan, bicara soal pertemanan malah sampainya ke kepribadian. Tapi itu juga ada hubungannya loh. Seperti yang aku ungkapkan di awal, kualitas pertemanan ditentukan jua oleh kualitas pribadi kita.

Disini aku hanya ingin mengajak kalian, teman-temanku, saudara dan keluarga yang kusayangi untuk tetap belajar menjadi pribadi yang dewasa dalam segala hal. Ikhlas dan sabar menerima tiap cobaan dan ujian, karena sesungguhnya kalian mampu menjalani semuanya. Memintalah hanya pada satu-satunya yang bisa memberi. Satu yang Esa yang menguasai hidup dan kehidupan kita.

Dan ketahuilah, andai saja kalian tahu….di luar sana, ada banyak pribadi yang menangis karena penderitaan dan ketidakmampuannya, ada keluarga yang khawatir dengan keadaan anak atau orang tuanya yang sakit, ada anak-anak yang harus berjuang meskipun belum saatnya hanya untuk mengisi perutnya.

Kita jauh lebih beruntung meski dengan masalah-masalah yang kita hadapi….lihatlah wajah polos baby kita, cerianya, tingkah lucunya, segala ocehannya, sehatnya… apakah itu belum cukup menggambarkan betapa besar nikmat Allah yang tercurah pada kita ?

Heheee…..jadi ustadzah dah sekarang….:p
Tidak, aku tak pantas menyandang itu….aku hanya bilang apa yang ada di kepalaku saja sekarang. Gak tahu nih, kesambet darimana tadi ? :))

Aku sudahi saja deh, daripada kelamaan malah ada yang eneg nanti….:D

Aku menyayangi kalian, karena aku mengenal kalian sebaik kalian mengerti tentang aku. Terimakasih teman, persahabatan ini begitu berarti bagiku…banyak nilai yang bisa kubawa untuk membangun diriku sendiri. Meski cengeng tapi aku kuat hadapi segala kemungkinan dalam hidup…ini pun berkat kalian…:)
Semoga Allah yang Maha Mengetahui meridhoi ketulusan persaudaraan kita, dan terjalin silaturahim hingga akhir kelak. Semoga bisa terlanjutkan pada baby kita jua….
Aamiin Ya Rabb…

Sudah ah….
:D
IOU
:-*

KISAHMU CERITA HIDUPKU


oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 03 Mei 2011 jam 12:08


Kedatanganmu adalah hal yang paling kami tunggu, karena dirimu adalah pembuktian yang tidak terbantahkan…..kebenaran hakiki yang tak terpatahkan.
Engkau terlahir sempurna, banyak yang memuji dan aku tahu ada sedikit iri, namun engkau tetaplah makhluk terindah yang pernah tumbuh dalam rahimku….
Dan hadirmu pun diiringi dengan begitu banyak kekhawatiran….dariku juga pada pelindungmu kelak...
Ada ucapan-ucapan yang aku tahu itu lebih ditujukan pada diriku….dan aku tahu harus berusaha lebih agar mata mereka tetap terbuka kalau aku pun bisa seperti yang lainnya, meski tidak sesempurna yang diinginkannya.
Aku merasa bisa….aku mau….dan aku yakin, Allah akan selalu ada untuk menemaniku dan membimbingku melewati semua keraguan itu…

Kini…aku pun tetap bisa berkata kalau aku bisa dan selamanya akan tetap bisa….

Roman-roman dikit gak pa-pa yah….sebagai pembuka kata…:p

Oktober 22.....kudengar jeritanmu untuk pertama kali setelah kau dikeluarkan dari rahimku. Dikeluarkan ? Iyah, aku tidak melahirkanmu....dokter lah yang mengeluarkanmu...:D
Dan kalian tahu.....bila yang lain menyebutnya sebagai hari lahir, kami menamainya hari keluar...:))

Prosesi ”pengeluaranmu” bisa terbaca di  http://www.facebook.com/note.php?note_id=119873594696591

Mungkin karena engkau telah cukup umur (39 minggu) atau memang Allah merawatmu dan menjagaimu lebih, maka saat kau hadir didunia ini kau tampak sangat indah.... engkau bersih, tidak keriput, tidak ada kerak dikepalamu....sangat bersih dan sangat cantik. Malah ada yang bilang kamu seperti baby 3 bulan.....ini mah terlalu mengada-ada atau mereka bicara yang sejujurnya yah ?? :D

Saat pertemuan pertama denganmu.....aku merasa benar-benar takjup, so amazing.... dan tak henti-hentinya aku berucap syukur....
Ya Raab.....makhluk indahMu ini Kau tumbuhkan dalam tubuhku....selama 39 minggu aku membawanya pada rahimku.....
Aku sangat kagum dan terpesona dengan ciptaanMu ini....

Kuperhatikan.....dalam-dalam kutatapi tubuh mungilmu itu..... ahh, ada sesuatu yang buat mereka iri padamu dan terang-terangan mereka mengucapkan itu....:)

Pipimu ada lesungnya, tapi hanya di pipi sebelah kiri...sangat manis....:)
Dagumu belah.....mereka bilang seperti turis :D
Lenganmu banyak lipatan kulitnya......tampak seperti boneka yang bisa dibongkar pasang jadinya....:))
Bahkan di kakimu pun ada lipatannya, tidak hanya di paha tapi juga pada betismu.....setiap orang yang melihat itu selalu bilang, baru pertama ini melihat baby yang ada lipatan kulitnya di betis....
Dan......unyeng-unyengmu ada dua. Satu ajah namanya udah unyeng-unyeng trus kalau jumlahnya dua bilangnya unyeng-unyeng unyeng-unyeng donk....=))
Tak ada pikiran negatif melihat tanda itu, meskipun banyak yang menjudge klo unyeng-unyeng 2 itu anaknya bakal bengini dan begitu.....tapi bagi kami, anak itu sangat polos, dan tergantung kita sebagai orang tuanya akan membentuk dan mewarnai jiwanya bagaimana ? so.....engkau tetap menjadi anak manis bagi kami...:)
Tingkahmu pun mengundang decak mereka yang menjengukmu bahkan perawat-perawat yang mengasihimu.....
Baru tadi pagi dikeluarkan siangnya udah miring-miring.....bahkan bobo pun lebih suka miring....:D

Tapi engkau sangat ”menguji” kami....dua bulan engkau benar-benar tidak mau lepas dari kami.
Engkau minta didekap terus dan tak mau lepas dari pelukan kami.
Bahkan kalau biasanya baby setelah dimandikan pasti akan tertidur....tapi engkau malah jadi sangat rewel, begitu susah menidurkanmu....
Aku tahu, baby memang sangat suka dekapan....bahkan aku pernah membaca, semakin lama baby didekap atau digendong, maka kelak dia akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri....
Namun yang tidak aku mengerti adalah hanya mama’ yang mampu redakan tangismu.....aku merasa engkau ”menolakku” karena engkau pun tidak mau meminum susu dariku.
Sedih banget ingin ikutan nangis saja kalau engkau menangis.....Tapi aku sadar, itu bagian dari post partum syndrome.
Dan tidur malam pun engkau memilih waktu yang sangat larut...terlalu larut untuk kami semua...
Namun menginjak usia 3 bulan, engkau menjadi sangat mandiri...

Aku belajar memandikanmu saat dirimu 1 bulan.... kalau hanya dibayangkan saja memang hanya ketakutan dan kekhawatiran. Takut baby akan kenapa-napa., khawatir akan terjadi sesuatu pada baby....tapi setelah dijalani, ternyata menyenangkan memandikan baby....:)

Oh ya....ada satu pengalaman buruk yang selamanya tak mungkin aku lupakan....saat udelmu bolong. Ya Allah, aku begitu khawatir saat itu....
Aku melanjutkan perawatan baby yang dilakukan perawat-perawat waktu masih di Rumah Sakit....
Baby tidak dipakaikan gurita dan untuk tali pusarnya hanya ditutup kain kasa, tanpa dikasih alkohol 70%.....
Aku tahu, pemakain gurita memang ada efeknya terhadap baby, tapi soal alkohol itu aku tidak tahu kenapa tidak dipakaikan juga ??
Dan setiap baby pipis, kasanya jadi ikutan basah....dan juga selalu tergeser dengan gerakan baby.
Memang pusarnya pupus, namun masih basah.....dan tiap selesai mandi yang basah itu (warnanya kehijauan) malah dibersihkan. Tapi saat basahnya itu hilang, malah dalamnya perutmu yang kelihatan.... Ya Allah, pusermu bolong....
Aku panik, cemas dan sangat khawatir.....aku seperti melihat isi perutmu karena hanya ada lapisan tipis yang memisahkannya.
Aku bawa ke bidan, dan dikasih salep tapi tempatnya botol kecil....aku lupa namanya tapi kami menyebutnya ”obat putih”.
Bidan bilang oleskan itu tiap selesai mandi sampai masuk kedalam....pakai cotton bud.
Dan bidan juga menyarankan agar baby dipakaikan gurita.....aku jadi bingung sendiri, mana yang benar ?
Aku hanya membaca-baca saja sedangkan bidan pastinya didasarkan pada pengalaman....tapi saat itu aku berpikir, daripada baby kenapa-napa mending ikuti saran bidan.
Dan selama pusermu masih bolong.....aku sama sekali tidak bisa untuk tenang. Aku mencoba untuk positif, tapi tetap terganggu bila menatap dirimu.
Tapi engkau tidak rewel....artinya engkau tidak kesakitan....
Pada hari ketiga setelah dioleskan salepnya....udelmu sudah ”tumbuh” dan menutup sempurna...

Engkau belajar tengkurap saat usiamu baru dua bulan.....kau miring-miringkan kepalamu dan menjadi kesal karena tidak bisa mengangkat pantatmu....
Dan saat aku bantu pantatmu, engkau malah langsung tengkurap dan menjadi sangat marah ketika kubalikkan badanmu.... Pikiranmu besar, apa daya badanmu belum mampu =))

Dan.....akhirnya bisa tengkurap sendiri pada umur tiga bulan, tapi baliknya belum bisa... saat ini pun sudah mulai mundur-mundur...:p

Belajar-belajar terus....latihan-latihan terus....dua minggu kemudian sudah bisa balik sendiri....horaaayyyy....:D

Heem, baru bisa guling-gulingan ajah sudah gak terhitung berapa kali kejedut, makanya jangan heran, kalau ada baby selalu penuh bantal-bantal yang menutup tembok....tapi baby kuat kowq, kalau tidak bener-bener sakit gak akan menangis...
Saat ini pun mundur-mundurnya semakin cepat dan tambah jauh...usia ini pun, engkau sudah bisa menirukan suara cicak, ckckckkkk.....:))

Usia 5 bulan, engkau mulai mengangkat pantatmu....dan hanya pantatmu yang menjulang tinggi karena tangan-tanganmu belum kuat menopang...

6 bulan engkau sudah kuat mengangkat tubuhmu dan menopangnya dengan kaki dan tanganmu, dan saat ini pun engkau telah belajar untuk duduk meski harus tetap ada yang menahanmu, karena kalau tidak akan seperti pohon yang tumbang....tanpa ada perlawanan dan langsung rubuh di kasur....:D

Usia 7 bulan, engkau mulai merangkak.... engkau begitu tertarik dengan tissue, hingga mampu menggerakkan tubuhmu untuk menjangkaunya. Sampai sekarang pun kau sangat suka main-main dengan tissue, hingga habis ditarik-tarik dan dikucel-kucel. Makanya sekarang malas beli tissue meja....
Saat ini engkau sudah bisa naik ke ranjang sendiri....malah kami yang jadi ketakutan...:D

Saat dirimu 8 bulan, engkau semakin lancar merangkak, engkaupun sudah bisa menahan saat tubuhmu hendak rebah.....namun engkau kadang sengaja menjatuhkan tubuhmu, ahh, kecil-kecil sudah jahil.... jahil itu keturunan bukan yah ? :p
Pssssttttt......ada rahasia kecil antara kita, dan jangan bilang-bilang sama nenek yah Nak, kalau sebenarnya engkau pernah terjatuh dari tempat tidur waktu bobo....
Aku aneh saja, kenapa bisa melompati tubuhku yang sedang tidur di tepian ranjang ?? dan sampai sekarang pun aku masih tidak habis pikir ? :D

Engkau saat 9 bulan, sudah mulai berdiri mencari-cari pegangan....selalu menggapai menjangkau tempat yang tinggi. Dan saat ini pun gigimu mulai muncul, dua gigi susu di dibawah. Langsung dua yang tumbuh, dan hebatnya engkau tidak demam seperti yang terjadi pada sebagian banyak anak yang sedang tumbuh gigi.

Engkau sudah tidak mau makan bubur lagi, nasi tim pun tidak begitu mau....engkau memilih untuk makan nasi seperti kami....dan senangnya mengganggu setiap ada yang makan....:D
Dalam urusan makan, Alhamdulillah engkau tidak susah, dan syukurnya lagi perut kamu kuat....Alhamdulillah tidak seperti mamah, yang susah amat urusan makan dan perutnya juga rada-rada sensi.
Katanya kalau waktu hamilnya gak susah makan, maka anaknya kelak juga tidak susah makannya....benarkah ? karena memang waktu hamil dirimu, mamah makan apa saja....rakus banget. Seperti dirimu sekarang :))

Dan tepat satu minggu sebelum ”hari keluarmu” engkau bisa berdiri sendiri tanpa mencari-cari pegangan....
Amazing-nya engkau memperlihatkan kenaikan kemampuanmu itu pada malam hari, saat aku ada disampingmu.
Engkau sepertinya sengaja memilih waktu agar aku bisa melihatnya langsung....jadi aku tidak hanya mendengar cerita-cerita tentangmu saja. Terimakasih sayangku....:-*

Engkau sudah terlanjur mahir merangkak jadinya engkau malas melangkahkan kakimu. Engkau menjadi sangat tidak sabar untuk cepat-cepat sampai, karena itu engkau menangis saat belajar melangkahkan kaki....
Engkau juga tidak biasa dititah, dan untuk membangun percaya dirimu, kami hanya membimbingmu dan engkau yang menggenggam tangan kami. Karena dengan begitu, engkau bisa mengukur kemampuanmu sendiri dan bisa menahan menyeimbangkan tubuh bila merasa limbung dan hendak jatuh.

Kuatmu terasah dan semakin mantap kau jejakkan langkah-langkah kakimu menghujam bumi.
Kau jadi senang berjalan sampai-sampai lupa caranya duduk...:D
Dan setelah itu, pertumbuhan dan perkembanganmu sangat membanggakan....aku tidak mau membanding-bandingkan dirimu dengan baby yang lain, karena aku tahu perkembangan baby lain-lain. Aku hanya menikmati tiap kebisaanmu, dan tiap hari ada saja suguhan baru darimu....dan kadang aku begitu kagum karena ini jauh dari yang aku bayangkan.
Engkau tunjukkan tingkahmu yang menceriakan hidup kami, engkau hadirkan tawamu yang menyinari hari-hari kami, engkau perdengarkan ocehanmu dan bicaramu yang mewarnai waktu kami...
Dan saat ini....diusiamu yang baru 18 bulan engkau sudah mampu mengungkapkan rasa dan inginmu...

Engkau juga sudah bisa berbagi ketimbang Tak Abing, engkau malah mengalah demi penuhi inginnya....aku selalu bangga padamu, Nak.
Dari kecil kami sudah ajarkan itu, agar berbagi meski masih sendiri....tidak menertawakannya bila melakukan hal-hal yang tidak pantas. Karena aku perhatikan anak-anak disekitarku kadang orangtuanya tertawa seperti bangga ketika anaknya mengucapkan kata-kata kotor, atau memukul sama orang yang lebih besar. Engkau tidak boleh begitu, karena engkau harus tahu, kebanggaan kami padamu tidak pada hal-hal yang akan membuat kamu ”nakal” saat besar.
Kami berusaha konsisten, agar tidak terjadi kebingungan padamu....hingga ada kejelasan yang menegaskan bahwa sesuatu itu buruk atau baik.
Kami biasakan mengucapkan ”terimakasih” saat diberi.... ”tolong” saat menyuruh dan ”maaf” bila melakukan kesalahan meski tidak sengaja.
Sejauh ini, meskipun tidak menurut sepenuhnya engkau telah menjadi anak manis bagi kami, karena kami pun sadar....engkau harus menapaki tiap tahap perkembanganmu yang kadang membangkang ucapan kami....kami paham itu.
Dan kami akan selalu berusaha sayang.....dan kami tahu, engkau pun ujian khusus buat kami....jadi harus sangat bersabar ”menanganimu.”

Kosakatamu makin sempurna namun tak jarang masih membuat kami kebingungan juga...soalnya suka sembarangan berucap :D
Dan sekarang, di akhir kata-kata selalu ada tambahan ”em”-nya
Duduk em....dutak em... bobo em...
:))


Saat dirimu tidur....sangat polos dan begitu tenang...
Tidak terasa sudah sebesar ini dirimu Nak...
Sudah banyak kebisaanmu....
Dan tahukan engkau sayang....dirimu telah mengajarkan banyak hal kepadaku.
Keberanian menghadapi hal-hal baru, mematahkan kekhawatiran yang selalu menyergap tiap hariku...
Kau tumbuhkan (kembali) percaya diriku....
Kau buka (kembali) makna hidup kami.

Lakeisha Dyan Faranissa....
Engkaulah sebenar-benarnya harta kami.
Engkaulah wujud sayang Allah terhadap kami.
Dan engkaulah bentuk kasih yang nyata hadir antara kami.
Jadilah dirimu saja Nak....kami akan selalu jadi yang pertama mendukungmu.
Membimbing dan menjagamu...
Sehat selalu Nak yah....jadilah pribadi yang kuat, tidak cengeng dan pemberani...

Jadilah kekasih Allah Nak...
Do’a mamah dan semua hati yang menyayangimu akan selalu terpanjatkan untukmu.


*Owkey cantik....nyanyi apa lagi kita sekarang ?? :D




 
cerialah selalu baby

IOU....

KAMIS-ku.... 3 MARET-MU (KUBANG HATI DAN PIKIRKU)


oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 06 Maret 2011 jam 0:18


Aku bangun dengan kekuatan antara lemahku.... Dua malam sebelumnya aku tidak bisa tidur karena berpikir tentang keadaan tubuhku dan keluargaku, terutama gadis kecilku.
Ada tanda yang membuatku takut untuk terima nyataku....aku sakit. Aku cari informasi sebanyak-banyaknya di internet, dan itulah yang buat aku merasa takut...
Karena semakin tahu banyak, aku justru semakin takut.Selalu bayangan buruk yang muncul, bahkan yang terburuk sekalipun...
Dan tiap lihat lelap tenang gadis kecilku, aku menangis...Aku berdo'a untuk bisa bertahan lebih lama lagi...aku meminta untuk tetap bersamanya hingga besar nanti...
Aku sudah bulat untuk mengetahui sakit ini....Lebih baik tahu pastinya dari pada bermain dengan bayangan sendiri, yang hanya ketakutan yang dihadirkannya...
Tak kuremehkan lagi sakit ini...Tak berlaku lagi diagnosaku sendiri padanya.

Aku antri di Puskesmas karena harus punya rujukan untuk dilayani di RSUD sebagai peserta Askes.Aku dapat antrian no 7.
Selama menunggu panggilan, kuamati mereka yang senasib denganku...Disebelahku, ada anak kecil yang digigit anjing di pipinya.Heem, memang sedang mewabah rabies disini....telah banyak jua anjing-anjing yang dieliminasi, namun tetap saja ada laporan orang meninggal karena rabies.
Di barisan tempat duduk yang lain, ku saksikan kakek-kakek renta....dan yang buat aku tak habis pikir, tak ada siapa yang temaninya...
Ku lihat jua anak kecil dalam gendongan ibunya, dia selalu berteriak....ngoceh tepatnya, karena bermain-main dengan bawaan ibunya.Ahh, seketika pula aku teringat gadis kecilku di rumah...
Aku dengar nomorku disebut.Aku menuju loket dan kubilang minta rujukan...Lagi-lagi aku harus menunggu untuk diperiksa karena dokternya belum tiba.
Aku berkutat kembali dengan pikiran-pikiranku, pada gadis kecilku di rumah.
Namaku dipanggil, aku masuk ke ruang periksa.Sebelum pemeriksaan, kusempatkan untuk menimbang diri, iseng-iseng sebenarnya...Dan betapa kagetnya aku demi melihat jarum timbangan berhenti di angka 42...Ini timbangannya yang salah atau memang naik beratku ?Padahal aku merasa baju dan celana semakin longgar...Terlepas benar salahnya, tetap saja jadi sedikit hiburan dalam diriku..
Tekanan darahku normal...perawat berjilbab yang memeriksanya.Dan waktu berhadapan dengan dokter, aku segerakan memberitahu semua yang kurasakan, dan segala yang terjadi 2 hari kemarin.Dan diagnosa awal...sungguh mengejutkan.Ya Allah, jika benar itu sakitku, maka pengobatannya akan berat.Tanpa kuminta pun dokter langsung merujukku...
Aku ke loket untuk mengambil surat rujukannya dan kembali ke dokter untuk rujukan dan diagnosanya, lalu kembali lagi ke loket.Sedikitpun tak kumengeluh...

Aku menunggu angkutan di seberang Puskesmas...kira-kira 10 menit aku menunggu.Aku berdo'a demi kelancaran dan keselamatan perjalananku saat berada di angkot.
Selama di jalan, pikiranku hanya tentang sakitku....dan akibatnya yang jauh tidak hanya padaku, tapi juga keluargaku...lebih-lebih gadis kecilku...
Lalu tiba-tiba terdengar teriakan...Dan sekian detik kemudian terjadi benturan yang sangat keras...Aku baru sadar apa yang terjadi setelah kurasakan sakit di kakiku....dan keributan orang-orang yang dengan cepat sudah berkumpul.
Angkutan yang kunaiki menabrak truk yang bermuatan batu.Seketika aku gemetar, aku tak ingin melanjutkan perjalanan...Aku ingin segera pulang dan mendekap gadis kecilku erat...
Ya Rabb...Kau masih melindungiku, Kau masih menjagaku...Namun aku juga ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi padaku, maka kuputuskan untuk melanjutkannya saja...tak kurasakan sakit di kakiku.
Dan jalanku kali ini penuh dengan bayangan tidak baik...Sekian pertanyaan singgah, dan semuanya menambah kecemasanku.Dan aku bersyukur, aku selamat sampai RSUD.

Disinilah perjalananku yang sesungguhnya...Aku antri di loket dengan nomor b-091.Untung tidak begitu ramai...dan aku segera terlayani disana..
Aku memutar, karena poli bedah ada dalam bangunan di depan loket, poliklinik A.
Saat mau masuk, aku berpapasan dengan dokternya, beliau bilang untuk menunggu sebentar.Aku tau benar beliau adalah dokternya, karena sakitku yang dulu, beliau jua yang memeriksa dan menanganiku...
Dan demi Tuhan, aku tak sanggup ketika memasuki ruangannya...seketika tercium bau yang membuatku mual dan sesak...dan kuputuskan untuk menunggu di luar saja.
Satu persatu pasien yang cukup teratasi oleh perawat keluar ruangan.Aku masuk untuk administrasi...Dan ada mahasiswa yang praktek jua disana...dengannyalah kuungkap gejala dan tanda yang terjadi padaku.Tapi tindakan selanjutnya, tetap menunggu pemeriksaan dokter...
Aku keluar saja, karena dari tempatku menunggu aku akan tahu kalau dokternya memasuki ruangan.Lumayan lama aku menunggu...dan lagi kuamati pasien-pasien yang menanti divonis oleh dokter.Wajah-wajah murung terluka...entah apa sakitnya.Aku hanya bisa memahami rasanya saja.
Kulihat dokter masuk ruangan, aku pun ikutinya...Dan aku langsung dihadapkan padanya.Beliau membaca medical record hasil interviewku dengan si mahasiswa.Dan aku disuruh ke ruang periksa...
Ada 2 tempat tidur, dan aku memilih yang dekat pintu masuk.Dan aku pernah diperiksa pada tempat tidur satunya lagi...Masih teringat jelas kejadian kala itu.
Perutku ditekan-tekan pada beberapa bagiannya.Ada sakit yang begitu menusuk.Lalu digunakan stetoskop pada bagian-bagian perutku tadi.
Pemeriksaan selesai...dan aku diberi pengantar untuk test darah, test urine jua rontgen.
Aku memilih lewat tengah saja biar tidak kepanasan.Untuk itu aku harus menaiki tangga ke lantai 2...setelah keluar gedung ada beberapa anak tangga lagi untuk menuju laboratorium.
Disana lumayan ramai...tempat tunggu penuh, dan juga pasien-pasien yang duduk di kursi roda, pun terbaring lemah di tempat tidur dorongnya...
Aku segera ke loket, dan kupilih untuk test darah dulu.Aku langsung disuruh untuk masuk.
Aku menaikkan lengan bajuku yang sebelah kiri...karena biasanya di lengan itu mereka mengambil darahku.
Kuperhatikan saja petugasnya...dengan sigap mempersiapkan alat-alat yang diperlukan.Diambilnya dua tabung, tempat darahku nanti, dan diberi label namaku.Diambilnya jua satu botol kecil untuk menampung urine.
Lenganku diikat, tanganku diminta mengepal dan setelah terlihat ototnya, pada bagian itu diolesi alkohol.Dan aku memalingkan wajah ke arah lain...aku menolak melihat jarum itu menusukku, apalagi saat darahku disedot.
Namun tak lama, petugasnya bilang..."Aduh, kowq pecah ini.."Aku terpaksa menoleh, kulihat darah sudah banyak dilenganku, dan ditabung suntiknya baru sedikit...dan kini bagian itu sakit dan membiru, juga agak mengeras.
Ya Allah, biasanya juga sekali langsung berhasil, tapi kini harus 2 kali...aku bahkan berpikir, kalau nanti di kanan tidak berhasil jua, harus dimana lagi yang disuntik untuk dapatkan darahku ?Dan pikiranku jua kembali pada tabrakan tadi.Ya Rabb...pertanda apa ini ??
Kala ujung jarum mendekati lengan kananku, aku lagi-lagi menolak melihatnya.Aku tak rasakan apa-apa, namun aku gemetaran setelah bekas suntikannya ditutup plester.Aku mencoba untuk tidak cengeng...tidak rasai sedikitpun rasanya.
Lalu aku ke toilet untuk mengambil urine.
Waktu kuserahkan botolku, saat itu jua namaku dipanggil petugas.Aku mendekat dan ternyata disuruh untuk rontgen dulu.
Tempat rontgen satu gedung dengan lab. jadi tidak perlu jalan jauh.Aku berikan selembar kertas pada petugasnya.Dibacanya sebentar, lalu dipanggilnya rekannya diruang sebelah...
Subhanallah, perempuan cantik berjilbab mendekatiku dan tersenyum.Aku ikuti segala instruksinya...aku tidak malu melepas sebagian bajuku dan memperlihatkan auratku karena beliau mahramku.
Kami sedikit berbincang, dan aku sangat senang, karena aku melihat semakin banyak perempuan berhijab di instansi pemerintahan disini.
Hanya beberapa detik perutku tersinari, tapi aku merasa tangan kananku seperti teraliri listrik, namun rasanya menggelitik seperti kesemutan...
Lalu aku harus menunggu hasil semuanya tadi keluar.Satu nama dipanggil, dua pasien datang...petugasnya saja sampai heran. "Tumben ramai pasien hari ini..."Dan dalam hati aku bilang...sakit tidak tahu hari raya, karena bila berkuasa memilih, mereka pasti akan memilih untuk kumpul dengan keluarga, melewatkan dan merayakan hari raya diantara orang-orang yang disayangnya dan mencintainya.
Lama juga hasilnya keluar...khawatirku, saat aku kembali dokternya udah keburu pulang.Aku hanya bisa perhatikan mereka yang lalu lalang.Pasien dan perawat datang dan pergi...Semua sibuk...aku pun sibuk dengan pikiranku sendiri.Ku abaikan sms yang masuk, ku biarkan telpon tetap berdering kecuali dari keluargaku.Dan aku tetap miliki harapan yang terbaik untuk mereka.
Yang keluar terlebih dulu adalah hasil rontgen...lalu aku bertanya pada petugas lab. apa hasil test atas namaku udah keluar ? Dan petugas bilang belum, masih satu yang belum selesai di test.
Aku kembali duduk...kembali menunggu dan mengamati sekitar...
Namanya saja tempat publik, apalagi Rumah Sakit...siapa pun bisa kita jumpai, dan apapun bisa saja terjadi..
Ketika datang pasien yang tergolek lemah, terpasang selang oksigen dan terus mengaduh, timbul sedihku...aku membayangkan dia adalah bagian hidupku...tergambar bila dia adalah mamaku...Kesini tujuannya untuk rontgen...dan kuperhatikan lagi, kuingat-ingat dengan mampuku siapa yang mendampinginya...
Ya Rabb...dia adalah supir angkot kota yang sering antarkan aku dulu dari terminal ke kampus...tapi dia tak kenali diriku yang sekarang.Tak apa, aku tahu hati dan pikirannya sedang kacau.
Dia bercerita sedikit tentang keadaan istrinya...dengan tiba-tiba mengeluh sakit dipunggung, tidak bisa bangun dan sekarang sesak nafas...Ya Allah, berikan kesembuhan padanya, begitu pun dengan pasien-pasien lain...

Aku bergegas menuju poli bedah saat hasil serangkaian test tadi sudah dalam genggaman...kulalui jalan yang sama ketika ke lab.Aku berdo'a semoga dokter masih ada diruangannya.
Iyah, beliau masih disana...dan segera kuserahkan hasilnya pada perawat untuk dilanjutkan pada dokter.
Dokter bilang, hasil test darah normal....test urine juga sangat normal.Lalu dipasangnya hasil rontgen...dan terlihat struktur tulangku...Aku lalu dirujuk ke poli Orthopedi...(sudah lama aku tak mendengarnya........)
Aku naiki tangga itu lagi, karena polinya berada dibelakang loket...melewati apotik jua..
Sampai disana...ruangan sudah sepi...Lalu aku kebagian informasi...petugas bilang, dokternya ada operasi. Dan mereka menghubungi poli bedah via telpon untuk memberitahukan hal ini.
Aku diminta kembali ke poli bedah....dan kembali menuruni tangga ke lantai 1.
Untuk sementara dokter meresepkan 2 macam obat, dan hari Senin langsung saja ke poli Orthopedi...
Lagi-lagi aku naik ke lantai 2, keluar dari bangunan dan ikut antri dengan para penebus resep.
Sudah sangat siang...dan aku sangat haus...Namun kutahan untuk minum dirumah saja, sama sekali tidak ada keinginan untuk membelinya di kantin atau dagang yang berderet sepanjang trotoar depan rumah sakit...aku benar-benar ingin cepat pulang.
Setelah terima obatnya, aku keseberang dan menunggu angkot untuk keterminal.
Bertepatan dengan jam pulang sekolah, dan angkot sesak dengan murid-murid.Bahkan sampai ada yang duduk dipintu angkot.Mereka bercanda, tertawa, bicara tentang pelajaran, bicara tentang lawan jenis...dan kuperhatikan saja cerianya.Dan aku adalah penumpang terakhir yang turun...
Tak harus menunggu lama, aku sudah nyaman berada dalam angkot yang akan membawaku pulang.
Aku merasa capek...bolak balik naik turun tangga, apalagi akibat tabrakan tadi pagi, membuat kakiku berdenyut ketika diistirahatkan seperti ini.Aku ingin cepat dirumah, ingin peluk gadis kecilku...ingin istirahatkan lelah lahir bathinku...Meskipun aku pulang dengan tidak tahu pasti apa sakitku...

Aku membelikan gadis kecilku jajan, karena esok mulai libur....sebagai bekal Nyepi karena tidak ada yang jualan kala nanti.Aku juga belikan bola durian, agar tidak selalu rebutan dan mengalah dengan kakak..Lalu aku menunggu ojek...dan sangat lama aku menunggunya.Menanti hasil lab. saja tak begini lamanya...
Dan ada kesejukan yang menyergap ketika kuucapkan salam dan gadis kecilku menjawab sambil berlari menyongsongku.
Senyumnya menyambutku dan panggilannya yang manja meredakan letihku seketika...
Aku ganti bajuku, mencuci wajah, tangan dan kakiku...lalu aku bermain-main dengan gadis kecilku.
Kupeluk dirinya erat, dan diapun peluk aku, menepuk-nepuk punggungku...
Kuceritakan ceritaku ini pada gadis kecilku, jua Bapak dan Mama'...
Alhamdulillah....aku semakin berani kini.Aku lewati hariku ini sendiri...aku sudah terbiasa dan dibiasakan untuk mandiri.
Kulewatkan hari tadi dengan menunggu, menunggu dan menunggu...Dan apapun hasilnya, itulah nyata setelah usaha.
Begitulah adanya hidup dan kehidupan...Menunggu Ketetapan Allah setelah kita berusaha...Menunggu takdir yang diberlakukanNya pada umatNya setelah ikhtiar yang tak berputus.
Aku berserah atas diriku...aku berserah untuk hidup dan matiku.
Dan sekarang, aku masih bernyawa...masih ada kesempatan untuk berbhakti jua mengabdi, melakukan sebaik-baik peranku, sebagai anak, istri dan ibu...
Tidak ada yang sia-sia meski kadang anggapan buruk yang ada.
Tidak selamanya berarti atas usaha-usaha yang terjadi.Namun dari situlah aku bisa tahu, bagaimana aku dan mereka.
Aku tak sempurna menurutku, tapi kadang diinginkannya sempurnaku...dan bila itu tiada, hanya akan tersakiti rasa...
Apapun diagnosa dokter nanti...apapun vonisnya nanti tak akan kuingkari.
Kini hanya bisa menunggu...Bukankah kita semua sedang menunggu jua ?Menunggu tibanya waktu batasan kita ada di dunia...
Menunggu maut yang akan tempatkan kita pada keabadian hidup...
Bersabarlah teman...bukan hanya dirimu yang menderita.
Bila engkau mengetahuinya, setiap makhluk menanggung bebannya masing-masing.Dan bisa saja lebih sarat dari pada yang kau tanggung di pundakmu.
Teruslah syukuri dengan ikhlas, karena coba Allah adalah sayangNya padamu...
Tiada sakit dan penderitaan kecuali Allah ampuni dosa-dosa yang lalu...
Tetaplah semangat teman, jadilah jiwa yang hidup dan bermanfaat untuk mereka yang tercinta...