Senja itu ditepian pantai.
Hanya ada beberapa saja yang tampak bermain-main dengan ombaknya, diantaranya berada dalam laut, yang lain lebih senang bermain-main dengan ombaknya, sementara aku hanya duduk saja di bawah pohon waru.
Entah apa yang membawaku kesini…..mungkin hanya ingin penuhi rasa rinduku saja pada gemuruhnya, pada lincah riaknya dan terpaan angin di wajahku.
“Mbak !” kudengar suara panggilan didekatku dan reflek aku menoleh kearah sumber suara. Kudapati sosok laki-laki yang sedang tersenyum lebar kepadaku dan aku spontan mengernyitkan dahi, mencoba mengenalinya, namun sudah beberapa detik berlalu aku tetap tidak bisa menemukannya dalam rekaman ingatanku.
“Mbak lupa ?” tanyanya kemudian karena reaksiku tetap sama setelah beberapa saat menatapnya.
“Siapa ?” tanyaku kemudian.
“Dulu aku dan teman-teman suka minta air tiap selesai main sepak bola di lapangan…” jelasnya seraya duduk di dekatku.
Aku terdiam, mencoba kembalikan ingatanku pada beberapa waktu kebelakang. Memang dulu waktu belum pindah, anak-anak seusai main sepak bola suka ke rumah untuk minta air minum, dan waktu itu banyak yang kerumah.
“Dan Mbak suka menambahkan es batu pada minumanku….!” jelasnya lebih lanjut.
Aku terhenyak dan dengan cepat memalingkan wajah menatap dirinya, karena aku teringat pada satu orang yang kuperlakukan agak khusus pada waktu itu.
“Kamu…?” aku tergetar menatap wajahnya, perpaduan antara terkejut, tidak menyangka namun juga senang
“Iya Mbak…. Ini aku…” katanya dengan tersenyum.
”Kamu sudah besar sekarang dan terlehat beda....” kataku membalas senyumnya setelah meneliti baik-baik dirinya.
”Memangnya dulu aku kecil Mbak ?” tanyanya sambil tertawa.
”Iya, aku melihatnya begitu......karena yang kamu ajak main bola kebanyakan anak kecil.” jawabku sambil tertawa kecil.
Lalu cerita pun mengalir, dimana hampir tiap sore dia ke lapangan bersama teman-temannya dan selalu kerumah untuk meminta air minum. Entah bagaimana awalnya hingga bisa anak-anak itu berani untuk bertandang dan meminta air minum.
”Sudah sore....” kataku saat melihat semburat jingga menyentuh laut di ujung barat. Aku bangkit dan membersihkan tas dipenuhi pasir pada sisinya.
”Mbak sekarang dimana ?” tanyanya sambil ikut berdiri juga.
”Aku pindah dekat sini, tidak dilapangan lagi.” kataku sambil melangkah dan dia mengikutiku pelan.
”Bahkan aku tidak tahu siapa nama Mbak.....?” kata-katanya itu mampu menghentikan langkahku.
Aku menoleh dan menatapnya lurus.....”Aku Husna.....” jawabku pelan.
”Hanif......!” katanya memperkenalkan namanya.
Sudah dari dulu aku mengakrabinya dan baru sekarang aku tahu siapa namanya, dan dia pun begitu.
”Assalamu’alaikum......!” kataku kemudian dan kembali melangkahkan kakiku untuk pulang. Dan samar kudengar jawaban salam darinya.
^_^gLd^_^
Suatu senja lagi masih di tepian pantai.
Terlihat ramai dari biasanya, banyak anak-anak bahkan ada yang memainkan bola dipantainya yang basah dan sesekali harus terhampas karena terpaan ombaknya. Mereka tampak bahagia sekali dan kudengar tawa yang seakan tiada beban apa-apa.
Aku tetap memilih duduk dibawah pohon waru dan terus memperhatikan makhluk kecil yang terus berteriak-teriak kegirangan saat mengejar kepiting laut. Dengan lincah
”Assalamu’alaikum....” kudengar sapa salam yang terdengar dekat dariku duduk.
”Wa’alaikumsalam....” kataku menjawab salamnya sambil menoleh kearahnya dan ternyata itu Hanif.
”Tidak sering ya kesini ?” tanya Hanif sambil duduk di dekat kakiku, lalu aku menarik kakiku dan menekuknya.
”Iya, hanya bila ingin kesini saja....”jawabku pelan.
”Beberapa hari ini aku sering kesini.....dan baru kali ini bisa bertemu lagi.” katanya kemudian.
”Adek, jangan dekat-dekat airnya !” teriakku pada anak kecil yang asyik mengejar-ngejar kepiting kecil itu.
”Siapa ?” tanya Hanif sangat ingin tahu.
”Anakku.....” jawabku sambil tersenyum padanya.
Dan untuk beberapa saat kami berdiam diri, entah apa yang ada dalam pikirannya ? hanya saja aku merasakan ada perubahan, terlihat dari bahasa tubuhnya.
Anakku berlari kearahku dan tanpa ragu-ragu menabrakkah tubuhnya dalam dekapanku, dia tersenyum saat kami saling menatap.
”Adek, beri salam pada Om !” kataku sambil menyingkirkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya karena tertiup angin pantai.
”Ini Aisyah....” kataku memperkenalkan nama anakku. Lalu kulihat dia menyambut uluran tangan Aisyah dan Aisyah pun mencium punggung tangannya.
”Cantik.....dan kulihat sorot cerdas dari matanya.” kata Hanif setelah Aisyah mulai berlarian lagi di tepian pantai.
”Terimakasih....” kataku sambil tersenyum bangga menatap putri kecilku. ”Kamu gimana ?” aku menanyakan kehidupannya saat ini.
”Aku....belum. Aku kesini justru ingin menjemputnya, tapi.......” dia menjawab dengan terbata dan terputus.
”Tapi apa ?” tanyaku semakin penasaran.
”Sepertinya sudah terlambat......” jawabnya pelan sambil tersenyum yang dia paksakan.
”Mungkin tidak berjodoh.” ujarku sambil tersenyum menatapnya.
Dan dia kembali terdiam, lalu aku bangkit dan menghampiri putri kecilku yang sedang membuat bangunan dari pasir pantai, dan aku tersedot dalam dunianya meski sesekali melihat ke arah Hanif yang tetap bergeming dari tempatnya duduk.
^_^gLd^_^
Di terminal, beberapa lama setelah sore itu di pantai.
“Husna !” kuhentikan langkahku dan mencari-cari orang yang memanggilku diantara deretan bis dan bemo, juga hiruk pikuk orang-orang di terminal itu.
Aku melihat Hanif berlari kecil dan menghampiriku lalu menuntunku untuk menepi.
“Aku akan pergi.....!” katanya kemudian, dan aku diam mendengarkan karena aku merasa dia belum selesai dengan ucapannya.
”Aku sudah tahu.....!” dia berkata agak keras karena saat itu ada bis yang melewati kami keluar dari terminal.
”Aku sudah tahu !” ulangnya kemudian karena tidak mendapati reaksi apa-apa dariku.
”Tahu apa ?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.
”Kamu......sudah pisah dengan suamimu.!” katanya pelan namun penuh ketegasan.
Aku tidak terkejut mendengarnya, hanya saja aku tidak tahu apa maksudnya dengan mengatakan hal itu padaku.
”Kenapa kamu tidak cerita ?” tanyanya dengan rasa kecewa.
”Untuk apa ? Ini urusan pribadi Husna....” jawabku pelan.
”Tapi aku peduli.....” ucapannya kali ini menghentikan detakanku untuk sesaat. ”Tujuanku kesini adalah mencarimu, mencoba menemukan Mbak-ku yang sangat baik padaku waktu itu......memang hanya segelas air es, tapi aku melihatnya lebih dari itu....” kata-kata yang meluncur dari bibirnya benar-benar tidak bisa kupercaya.
”Aku memang terlambat........tapi aku tidak ingin menyesal seumur hidupku, aku tetap peduli sama kamu, Husna...” ucapnya penuh keyakinan.
”Pergilah, nanti kamu terlambat....” kataku menghindari sorotnya yang tajam.
”Husna, aku akan pergi.....Insyaallah aku akan kembali untuk menjemputmu....” bisiknya pelan ditelingaku. ”Peganglah ini....!” dia menyerahkan tasbih untuk kugenggam.
Aku terpaku, tidak menyangka dan tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar darinya.
”Aku berangkat Husna....” katanya mengagetkanku, dan aku jadi heran kenapa aku merasa kehilangan saat dia berpamitan.
”Salam buat Aisy..... Insyaallah Ayah akan datang menjemput setelah semua siap disana....” katanya lagi dan aku sekuat tenaga menahan agar air mata ini tidak keluar.
Hanif menuntunku kembali dan menghentikan bemo warna biru untukku, lalu mempersilahkan aku naik.
”Hati-hati ya, nanti aku kabari.....Assalamu’alaikum.” katanya saat aku sudah duduk dalam bemo yang akan mengantarkanku pulang dari kerja.
Dari kaca belakang bemo kuperhatikan Hanif melambaikan tangan dan tersenyum lebar padaku, dan aku sudah tidak mampu membendung air mata ini lebih lama lagi.....aku menangis dan kudekap untaian tasbih itu erat di dadaku.
Saat kuseka air mataku, kurasakan getaran dari dalam tasku, kuambil telpon genggamku dan kulihat ada pesan singkat masuk dari nomer baru.
”Aku mencintaimu, Mbak.....” itu pesan singkat yang kubaca dan diakhiri dengan smiley senyum.
”Hanif.....” ucapku lirih sambil tersenyum.

.jpg)
