Senin, 02 Mei 2011

Aku, gadis kecilku dan kamu (dalam alam pulauku)


oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 16 April 2010 jam 11:03


Kututup mataku…
Kubentuk pulauku sendiri…
Engkau menyebutnya Pulau Bidadari.

Semakin aku tenggelam dalam alamku.
Dan kubuat lebih detail pulauku itu.
Pada salah satu tepian pantainya.
Heem, pasirnya putih dan sebagian hitam.

Aku melihat dia, gadis kecilku, berjalan lincah bertelanjang kaki antara putihnya.
Matanya berbinar melihat kerang-kerang berserakan antara langkahnya.
Dia ambil satu tapi tak mau kehilangan yang lainnya.
Semakin banyak yang dia inginkan dan tangan mungilnya tidak mampu lagi memungut satu yang menarik hatinya.
Kerang dalam genggaman berjatuhan, tapi ia segera menunduk mengambilnya kembali.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.
Dia menoleh kearahku, sepertinya dia minta bantuan dariku tapi aku hanya menatapnya percaya dan aku tidak beranjak dariku berdiri.
Dia pun tersenyum,
Dia menarik ujung bajunya dan satu persatu kerang itu berpindah dalam tas yang dibuat dengan bajunya.
Heem, dia memang bidadariku.
Sekarang dia pun leluasa untuk mencari lebih banyak lagi dengan tidak pedulikan baju kesayangannya.
Bahkan kulihat ujung runcing kerang merobek bordiran kupu-kupunya,
Tapi dia terus mencari.

Kualihkan pandanganku lebih dalam lagi.
Aku melihat dirimu, memegang kayu kecil pada sisi hitamnya.
Aku tahu kamu menulis namamu dalam bingkai hati.
Tapi saat akan menulis lagi, ombak datang dan menghapuskan namamu juga hatimu.
Engkau sedikit menjauh dari bibir pantai.
Dan berusaha membuat hatimu kembali seutuhnya.
Tapi ombak selalu berhasil mengaburkannya.
Berulang kali begitu.
Dan kulihat engkau pun tampak kesal.
Engkau menoleh kearahku, mungkin merasa kalau sedang kuperhatikan.
Tapi aku tak mampu artikan tatapanmu itu.

Aku merasakan pantaiku lebih dalam.
Aku berjalan mendekati riaknya yang tenang.
Aku biarkan kaki dan baju panjangku basah terjilat ombak.
Dan aku biarkan jilbab ini menari liar ujungnya bersama angin.
Aku melihat gadis kecilku mendekat.
Senyum dan gelak tawanya cukup memberitahuku bahwa dia sangat senang dan puas dengan kerang-kerang dalam bajunya.
Dia bahagia dengan mainan dari alam itu dan dia pegang, ditunjukkan satu yang paling dia suka.
Dia lepaskan pegangan ujung bajunya dan kerang-kerang itu berjatuhan.
Dia bermain-main disitu, di dekat kakiku di antara ombak dan pasirku.
Aku melihatmu lagi, masih dengan kayu kecil itu.
Kubuang nafas sedikit berat…
Tak kau lihatkah gadis kecilku yang sedang gembira?
Tak mampukah ia hadirkan senyummu jua?
Sepertinya engkau tidak bisa mendengar tawa riangnya.
Kenapa?
Aku ulurkan tangan ini, ingin rengkuhimu, ingin kutarik engkau dalam keceriaan gadis kecilku.
Tapi engkau masih ingin membuat hatimu sempurna di pasir itu.
Kulihat engkau menoleh kearahku, masih dengan tatapan itu.
Aku menggeleng pelan, menyuruhmu berhenti untuk berusaha.
Karena aku tahu nama siapa yang ingin engkau sandingkan dengan namamu.
Lalu engkau mulai mendekat, melempar jauh-jauh kayu itu bersama bebanmu kelaut lepas.
Dan aku dapat merasakan senyumanmu, merasakan getaran jiwamu.
Aku kembali menemukan dirimu.
Saat engkau benar-benar didekatku, engkau tenangkan ujung jilbabku.
Lihatlah, gadis kecilku pun bertambah bahagianya dengan hadirmu.
Kutatap matamu, kuyakinkan dirimu.
Engkau sungguh berarti.
Tak perlu engkau perlihatkan tulisan itu, tak perlu engkau buat hati itu.
Aku sudah tahu.
Cukup disini, kusentuhkan tanganku pada satu titik didadamu.
Detakan itu memberi harapan.
Detakan itu membuat kita hidup.
Detakan itu menyatukan kita akhirnya.
Tetaplah begitu…
Itu saja kak…
Engkau raih gadis kecilku dalam dekapanmu.
Engkau kini bisa rasakan bahagianya.
Dan ada aku diantara kalian.
Sejauh ini hanya itu yang bisa kuhadirkan dalam pulauku.
Hanya engaku dan gadis kecilku saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar