oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 08 November 2010 jam 11:39
Ada sepenggal kisah yang nyata ada disekitar kita, namun kadang luput dari perhatian. Ini adalah cerita yang bagi sebagian orang hanyalah cerita ringan dan biasa namun pasti ada antara kita yang berkubang didalamnya demi sebuah peran................
Terdengar lagu Bimbo mengisi sela ruang antara mereka, Bunda dengan Adik, anak gadisnya yang masih kecil.
Terlihat Bunda serius konsentrasi pada laptopnya sementara Adik asyik membaca halaman buku ceritanya.
“Ada anak bertanya pada Bapaknya buat apa berlapar-lapar puasa…. Ada anak bertanya pada Bapaknya………….”Tiba-tiba nyanyian itu terhenti, Bunda merasa agak heran karena Bunda tahu kalau listrik tidak sedang pemadaman, namun akhirnya Bunda mengerti demi melihat remote dalam genggaman Adik.
Bunda memandang Adik berharap jawaban dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
“Adik punya Bapak ?” tanya Adik memecah kesunyian mereka.Meskipun pelan suara tanya Adik namun terasa sangat menggelegar bak halilintar, menyambar dan mengaliri sekujur tubuh Bunda hingga untuk beberapa saat hanya sanggup terdiam.
Bunda sebenarnya sudah mempersiapkan jawaban bahkan kala Adik masih sangat kecil karena Bunda tahu suatu saat Adik pasti mempertanyakannya. Namun Bunda tidak menyangka bahwa hari inilah saat itu dan sekarang entah kemana perginya semua jawaban itu…..
“Ayah……….?” tanya Bunda dengan suara bergetar.Bunda bangkit dari duduknya, meghampiri gadis kecilnya yang terdiam menunggu jawaban. Bunda duduk dihadapan Adik lalu mengusap kedua pipi Adik dengan kedua tangannya. Hal ini biasa mereka lakukan sebagai ungkapan sayang, namun kali ini Adik tidak membalas salam sayang Bunda. Adik hanya menatap Bunda lekat dan amat dekat.
“Adik punya Ayah ?” tanya Adik kembali.
“Semua anak punya Ayah, Sayang……..” kata Bunda berusaha tenang dan membalas tatapan Adik dengan tetap tersenyum.Bunda diam sejenak, lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudian Bunda kembali di hadapan Adik.
“Ayah Adik mana ?” tanya Adik lagi.
“Ini Ayah…..” kata Bunda sambil menyerahkan selembar foto pada Adik.Adik meneliti gambar pada foto tersebut, sementara Bunda tak melepaskan pandangannya dari gerak gerik Adik. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap Bunda dan itu terasa menyesakkan.
“Adik tidak kenal…….” kata Adik sambil meletakkan foto itu di sampingnya.Bunda terdiam sejenak, menarik nafas menata hati dan jua emosi.
“Adik belum sempat mengenal Ayah.” kata Bunda menenangkan Adik.
“Kenapa Ayah tak disini bersama kita Bunda ?” kejar Adik.
“Ayah memilih untuk seperti itu, Sayang.” jawab Bunda
“Ayah tak sayang Adik……….?!” wajah Adik menegang lagi.
“Ayah sayangimu, Nak…….seperti halnya Bunda.” Bunda menjawab masih dengan tersenyumBunda menggeser posisi duduknya dan berada disamping Adik, melingkarkan tangannya merengkuh Adik sehingga Adik nyaman bersandar di bahu Bunda.
“Kenapa pergi kalau sayang ? Apa Bunda juga akan tinggalkan Adik ?” nyata kecemasan terpancar dari mata beningnya.
“Bunda tak akan pergi, Sayang, meskipun Bunda sering tinggalin adik untuk bekerja. Adik hanya masih kecil saja untuk mengerti hal ini…….”
Kemudian Bunda mengambil tangan Adik dan meletakkannya diatas telapak tangan Bunda.
“Kelak kalau tangan Adik sudah sebesar tangan Bunda, kala itu Adik akan mengerti kenapa Ayah tak bersama kita.” Adik memperhatikan tangannya yang tertungkup di tangan Bunda.Adik diam, sepertinya menikmati elusan lembut Bunda.
“Tangan Adik akan sebesar Bunda ?” tanya Adik kemudian.
“Iyah, Sayang……dan bila saat itu tiba Adik pasti mengerti tentang banyak hal dan mungkin Adik yang akan ninggalin Bunda !” kata Bunda menggoda dengan menyentuhkan ujung jarinya ke hidung Adik, dan Adik mendekut manja sambil tersenyum.
“Adik rindu Ayah ?” tanya Bunda sambil mengusap punggung tangan Adik yang tampak mungil diatas telapaknya.
“Adik sedih kita hanya berdua saja ?” tanya Bunda kemudian.Adik masih terdiam, entah apa yang bisa dipikirkan gadis sekecil Adik tentang masalah ini.
“Tidak tahu Bunda…..Adik tidak kenal” kata Adik sambil melirik kembali gambar di foto yang tergeletak disampingnya itu.Dan kali ini Bunda benar-benar menyerah, air matanya jatuh tak mampu dibendung lg, namun Bunda tetap berusaha menahan isak agar Adik tidak tahu, namun gadis kecil itu semakin mempererat pelukannya.
“Adik akan mengenal Ayah…….beri Ayah waktu, yah ?” pinta Bunda menenangkan Adik.
“Bunda…….rindu Ayah ?” kali ini Adik menatap Bunda dengan pandangan menggoda.
“Bunda lebih rindu pada Adik………..” jawab Bunda lembut.
“Adik tidak apa-apa kan hanya ada kita ?!” tanya Bunda hati-hati.
“Bunda bisa jagai Adik selama ini, bisa jadi orang tua buat Adik…………” Bunda menarik nafas karena merasa ada yang mendesak kuat dadanya.
“Bunda bisa imami Adik……….” pertahanan Bunda nyaris patah.
“Adik sayang Bunda……….” kata Adik sambil memeluk erat Bunda.
“Jangan menangis Bunda…………..” kata Adik kemudian.Dan mereka berpelukan seolah tak ada jarak lagi antara mereka. Tak ada siapa pun kecuali hanya mereka saja…….Adik dan Bunda.
“Maafkan Bunda, Sayang……….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar