Jihadku sempurnakan Ibadahku.
oleh Gevi Gesha L'Keisha pada 22 April 2010 jam 14:54
Aku pernah merasakan sakit itu.
Meskipun tidak sempurna tapi nyata aku rasa.
Karena Allah menciptaku tidak untuk merasakan puncak kesakitanku.
Padahal aku mau sakitku lahir dan bathin aku siapkan.
Tapi aku sangat perlu dibantu dan dengan pisau-pisau sterilnya, bagian tubuhku disayat, dirobek…
Aku berdarah...
Aku mati rasa.
Aku hanya merasa basah, sangat basah dan itu cemaskan banyak orang.
Tengah malam aku buat mereka panik.
Tiap waktu petugas medis mendatangiku dengan wajah tenang dan datar, pasti sudah terlalu banyak mereka temui kasus sepertiku.
Tapi anehnya ada juga yang khawatirkanku, dia datangi aku dengan perhatiannya, seakan aku mengingatkan pada adiknya, kakaknya atau mungkin dirinya sendiri…
Mereka takut aku kering, mereka khawatir bayiku memakannya.
Sarungku seperti terendam dalam cairan.
Aku dengar detak jantungnya, beradu cepat dengan punyaku.
Sangat keras degupannya tapi kenapa mereka bilang lemah? Kenapa itu jadi masalah?
Dimasukinya tubuhku, Ya Rabb…itu sangat menyakitiku, dan mereka bilang dia masih mengambang.
Jangan sampai infeksi katanya.
Dan seketika itu juga aku dipersiapkan.
Aku pasrah dengan tidak berhenti berdo’a.
Tiap 5 menit aku mulai kesakitan, tiap 5 menit semakin kuat sakitnya mencengkeram.
Aku merintih…
Aku mengerang…
Aku menahan…berkeringat dan sangat panas.
Aku haus…
“Ibu tidak boleh minum, ibu akan operasi” kata perawat.
Ya Allah, kuatkan aku.
Entah kenapa aku sangat berharap perawat itu adalah temanku.
Tapi rupanya dia dinas pagi.
Aku ingin dia melihatku kesakitan.
Aku ingin dia melihatku “tersiksa”
Aku ingin dia bangga padaku.
Mama, seperti inikah rasamu dulu waktu akan lahirkanku?
Beginikah rasa sakitmu dulu?
Maafkan ana ma, ana sudah berbuat banyak salah, sengaja maupun tidak.
Maafkan segala sikap, perkataan, dugaan dan prasangka.
Maafkan karena ana belum bisa jadi anak yang baik, belum bisa penuhi segala inginmu.
Ana juga merepotkan mama…dari dulu.
Aku genggam tangan mama.
Aku meremasnya kasar ketika sakit itu menyerang.
Aku berharap dukungan tapi aku melihat hanya kecemasan saja..
Selama hampir 5 jam aku berkubang dengan sakitku itu, sekarang bukan lagi 5 menit, aku merasa semakin dekat dan amat sakit.
Aku tidak sabar lagi.
Aku tahu akan sakit seperti ini tapi aku ingin secepatnya.
Lalu kudengar telpon berdering.
Dan batinku berkata, sekaranglah waktuku..
Aku, masih dengan sakit yang mencekat erat, didorong susuri lorong-lorong,
Masuk dalam ruang hijau.
Aku suka warnanya, sangat menenangkanku tapi sesaat saja kukira.
Sepi, dengar suara pun hanya bisik-bisik saja.
Dan dingin.
Amat dingin kurasa hingga aku hampir menggigil.
Aku didekatkan dengan peralatan-peralatan disana dan dipasangkan pada dada (banyak tempat) dan ditangan serta lenganku.
Semuanya mengeluarkan suara, selamanya tidak akan pernah kulupa bunyinya.
Detakku, tekananku..semua muncul dalam angka-angka yang aku tidak tahu apa maksudnya.
Lenganku terpompa tiap 10 menit.
Suaranya semakin nyaring ketika aku menegang …
Bahkan sempat diatas ambang kewajaran hingga berbunyi seperti sirine ambulance.
Lengkap dengan indikator lampu merah yang menyala garang.
Aku hanya bisa berdzikir, bershalawat…semampuku.
Karena sakitnya patah-patahkan lafadzku.
Samar aku dengar suara yang tidak asing lagi bagiku.
Aku begitu mengenalnya dan sangat menenangkan.
Dia dokterku,
Dialah yang selama 39 minggu memantau kesehatanku dan janinku.
Memberi vitamin untuk kuatku dan juga bayiku.
Memperlihatkan pertumbuhannya dari minggu ke minggu.
Memperdengarkan keras detakan jantungnya.
Memberitahu berat badan bayiku.
Tapi yang terakhir ini dia keliru.
Bayiku bukan tidak ada 2500 gr tapi 3150 gr, dokter pun sangat keheranan.
Aku bahkan tidak sabar menanti hari untuk berkunjung
Heem, karena aku akan melihat bayiku…
Dalam perutku ada makhluk hidup dan tumbuh sehat.
Subhanallah…
Aku sukai tiap gerakannya, aku ajak dia bicara biar dia kenali mama-nya.
Aku selalu perdengarkan mozart-mu
Aku tahu engkau sukainya…
Ya Allah, segerakanlah ini..
Aku meringkuk, tubuhku ditekan, aku telanjang….
Sempat aku berpikir…seperti inikah dia di dalam?
Lalu aku merasakan tusukan jarum di tulang belakangku, aku bergerak…
Bukan karena sakitnya, karena ini tak sebanding dengan sakitku, tidak ada apa-apanya.
Aku hanya terkejut saja, aku tidak siap akan disuntik dipunggungku.
Dan aku kembali ditekan untuk tetap meringkuk.
Perlahan aku mulai kebas, kaki-kakiku mati rasa.
Aku lumpuh bahkan jari pun tak kuasa aku gerakkan.
“Berdo’a ya bu…” kata dokter menenangkanku, tapi aku malah disergap kecemasan yang luar biasa.
Aku sadar tapi aku benar-benar tidak merasakan apa-apa.
Aku mendengar percakapan dokter, semua perbincangan kru aku mendengarnya.
Tapi bukan itu yang jadi perhatianku saat itu.
Anakku…
Kegelisahan nyata terlihat.
“Ibu baik-baik saja? Ibu sesak??” Tanya dokter lainnya.
Aku hanya bisa menggeleng. Aku cemas luar biasa.
Hanya 10 menit waktu mereka
Dan aku mendengar jeritan, dua kali jeritan yang sama kerasnya.
Jeritan kebebasan, jeritan rasa syukur dan jeritan sempurna-NYA.
Kulihat jam di tembok hijaunya, 05.40 wita.
Sekarang hari Kamis, 22 Oktober 2009.
“Selamat, bu..anaknya perempuan, sehat” entah siapa yang mengucapkan itu.
Oh, anakku…
Aku ingin memelukmu, aku mau menciumimu, aku inginkan dirimu nak,
Tapi mereka membawamu pergi, mereka memisahkan paksa kita.
Aku inginkan anakku, aku mau melihatnya, tolonglah….
Aku menjerit dalam batin dan mulut ini terlalu kaku untuk berkata-kata.
Tapi aku mendengar tangisanmu saja, keras dan sangat kuat.
Engkau sehat nak…Terimakasih ya Allah…
Diantara percakapan para dokter, antara suara nyaring peralatan-peralatannya dan suara penyedot darah.
Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sangat berat, leher belakangku berdenyut hebat, aku tidak bisa bernafas.
Ya Rabb..aku tidak mau kalah disini.
Tidak ditempat ini, bukan dengan cara seperti ini.
Tapi denyutan itu semakin keras.
Apakah akan pecah? Apakah aku akan berakhir?
Ya Allah, aku belum melihat anakku, janin yang selama 39 minggu Engkau titipkan dalam rahimku.
Aku belum mendekapnya, aku belum menyusuinya..
Beri aku kesempatan itu ya Allah…kuatkanlah aku.
Aku berusaha bernafas, oksigen yang dialirkan ke hidungku tak mampu lagi menyokong.
Para dokter tahu aku bermasalah dan mereka berusaha menenangkanku.
Dengan suntikan…beberapa suntikan pada selang infusku.
Dan aku terlalu pusing untuk mengingat berapa suntikan dan apa saja namanya.
Aku masih mau bernafas, aku masih mau berdetak, tapi denyutan itu nyata menggiringku menuju kegelapan.
Membimbingku menjauh dari sadarku.
Dua kalimat suci terucapkan, dzikir pun aku lafadzkan diantara takut dan do’aku…
Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi sekarang.
Aku seakan terbang…
Apakah helai rambutku tidak mampu menahan nyawaku?
Apakah aku sudah jauh?
Anakku…aku merindukanmu.
Tapi aku masih mendengar peralatan pemantau jantungku.
Aku masih mendengar dokter berbincang antara denting pisau dan gunting operasi pagi itu.
Dan aku merasakan elusan lembut dilenganku.
“Ibu baik-baik saja.”
Aku melihat kelegaan dimata mereka dan aku tahu mereka tersenyum meskipun dengan wajah tertutup masker.
Alhamdulillah ya Allah….
Aku ingin segera melihat anakku.
“Bayi ibu harus dalam pengawasan kami, karena bayi ibu sectio minimal 6 jam masa observasi...”
6 jam ? kenapa selama itu??
Aku sangat tersiksa dengan inginku.
Aku mau anakku tapi mereka menahannya.
Anakku sehat, mengapa mereka menjaganya?
Aku inginkan anakku karena hanya aku yang belum melihatnya.
Aku sedih dan perih, seperti luka sepeninggal anastesi.
Mama menjemput anakku, menjemput cucu keduanya.
Subhanallah….
Lailahaillallahu Allahu Akbar…
Anakku, cantiknya engkau.
Sempurna bentukmu.
Bersih.
Montok
Jari-jari mungilmu, aku menghitungnya, seperti punyaku ada 5.
Engkau tumbuh baik rupanya dalam rahimku.
“Bukalah matamu, nak, ini mama...”
“Apakah engkau mendengarku nak, ini mama...”
Aku hanya melihat gerakan mulut mungilmu dan geliat tubuhmu.
Aku pun jadi tahu, kalau engkau tahu aku mamamu.
Tapi penderitaan itu belum usai, ijinkan aku menyebutnya penderitaan.
Saat anastesi mengaburkan rasa perih, aku mulai merasakan nyerinya.
Bukan pada bekas lukanya tapi jauh didalam diriku, dalam perutku.
Aku merasa tidak kuat, aku menyerah dan aku menangis.
Ampuni aku ya Allah, aku tidak bisa menjalankan kodratku dengan sempurna dan aku masih mengeluh dengan nikmat seindah bayiku.
Sakit itu teramat sangat hingga mengalahkan wajah polos yang suci dan bersih itu.
Aku benar-benar sudah patah, sama seperti awalnya tiap 5 menit sakit itu datang.
Perawat-perawat itu (ahh, engkau sepenuh hati menjalankan tugasmu, engkau merawatku, memandikan aku, memenuhi kebutuhanku dan juga bayiku…terimakasih semuanya) mencari jalan keluar terbaik.
Mereka yang awalnya menggodai aku jadi merasa iba dan kasihan, mungkin aku mengingatkan mereka pada kakak atau adiknya atau bahkan pada mereka sendiri.
Obat oral masih membuatku menangis, pun lewat infus tidak jua bereaksi.
Mereka konsul dengan dokterku dan akhirnya obat anal yang mereka berikan.
Beberapa menit kemudian, rasa sakit itu hilang, menguap entah kemana.
Aku pun mulai bisa membalas candaan mereka.
Alhamdulillah ya Allah, aku Engkau selamatkan dan bayiku juga sehat
Itu 6 bulan yang lalu dan sekarang bayi itu kupanggil KEISHA.
Dan tiba-tiba seseorang bertanya “Masih mau punya anak lagi?”
Aku teringat “penderitaannya” kembali bahkan masih nyeri aku rasakan luka didalam
“Yah!” jawabku pasti.
Karena itu sudah menjadi kodratku, akan aku terima dan jalani ia dengan sebaik-baik mampuku.

Meskipun tidak sempurna tapi nyata aku rasa.
Karena Allah menciptaku tidak untuk merasakan puncak kesakitanku.
Padahal aku mau sakitku lahir dan bathin aku siapkan.
Tapi aku sangat perlu dibantu dan dengan pisau-pisau sterilnya, bagian tubuhku disayat, dirobek…
Aku berdarah...
Aku mati rasa.
Aku hanya merasa basah, sangat basah dan itu cemaskan banyak orang.
Tengah malam aku buat mereka panik.
Tiap waktu petugas medis mendatangiku dengan wajah tenang dan datar, pasti sudah terlalu banyak mereka temui kasus sepertiku.
Tapi anehnya ada juga yang khawatirkanku, dia datangi aku dengan perhatiannya, seakan aku mengingatkan pada adiknya, kakaknya atau mungkin dirinya sendiri…
Mereka takut aku kering, mereka khawatir bayiku memakannya.
Sarungku seperti terendam dalam cairan.
Aku dengar detak jantungnya, beradu cepat dengan punyaku.
Sangat keras degupannya tapi kenapa mereka bilang lemah? Kenapa itu jadi masalah?
Dimasukinya tubuhku, Ya Rabb…itu sangat menyakitiku, dan mereka bilang dia masih mengambang.
Jangan sampai infeksi katanya.
Dan seketika itu juga aku dipersiapkan.
Aku pasrah dengan tidak berhenti berdo’a.
Tiap 5 menit aku mulai kesakitan, tiap 5 menit semakin kuat sakitnya mencengkeram.
Aku merintih…
Aku mengerang…
Aku menahan…berkeringat dan sangat panas.
Aku haus…
“Ibu tidak boleh minum, ibu akan operasi” kata perawat.
Ya Allah, kuatkan aku.
Entah kenapa aku sangat berharap perawat itu adalah temanku.
Tapi rupanya dia dinas pagi.
Aku ingin dia melihatku kesakitan.
Aku ingin dia melihatku “tersiksa”
Aku ingin dia bangga padaku.
Mama, seperti inikah rasamu dulu waktu akan lahirkanku?
Beginikah rasa sakitmu dulu?
Maafkan ana ma, ana sudah berbuat banyak salah, sengaja maupun tidak.
Maafkan segala sikap, perkataan, dugaan dan prasangka.
Maafkan karena ana belum bisa jadi anak yang baik, belum bisa penuhi segala inginmu.
Ana juga merepotkan mama…dari dulu.
Aku genggam tangan mama.
Aku meremasnya kasar ketika sakit itu menyerang.
Aku berharap dukungan tapi aku melihat hanya kecemasan saja..
Selama hampir 5 jam aku berkubang dengan sakitku itu, sekarang bukan lagi 5 menit, aku merasa semakin dekat dan amat sakit.
Aku tidak sabar lagi.
Aku tahu akan sakit seperti ini tapi aku ingin secepatnya.
Lalu kudengar telpon berdering.
Dan batinku berkata, sekaranglah waktuku..
Aku, masih dengan sakit yang mencekat erat, didorong susuri lorong-lorong,
Masuk dalam ruang hijau.
Aku suka warnanya, sangat menenangkanku tapi sesaat saja kukira.
Sepi, dengar suara pun hanya bisik-bisik saja.
Dan dingin.
Amat dingin kurasa hingga aku hampir menggigil.
Aku didekatkan dengan peralatan-peralatan disana dan dipasangkan pada dada (banyak tempat) dan ditangan serta lenganku.
Semuanya mengeluarkan suara, selamanya tidak akan pernah kulupa bunyinya.
Detakku, tekananku..semua muncul dalam angka-angka yang aku tidak tahu apa maksudnya.
Lenganku terpompa tiap 10 menit.
Suaranya semakin nyaring ketika aku menegang …
Bahkan sempat diatas ambang kewajaran hingga berbunyi seperti sirine ambulance.
Lengkap dengan indikator lampu merah yang menyala garang.
Aku hanya bisa berdzikir, bershalawat…semampuku.
Karena sakitnya patah-patahkan lafadzku.
Samar aku dengar suara yang tidak asing lagi bagiku.
Aku begitu mengenalnya dan sangat menenangkan.
Dia dokterku,
Dialah yang selama 39 minggu memantau kesehatanku dan janinku.
Memberi vitamin untuk kuatku dan juga bayiku.
Memperlihatkan pertumbuhannya dari minggu ke minggu.
Memperdengarkan keras detakan jantungnya.
Memberitahu berat badan bayiku.
Tapi yang terakhir ini dia keliru.
Bayiku bukan tidak ada 2500 gr tapi 3150 gr, dokter pun sangat keheranan.
Aku bahkan tidak sabar menanti hari untuk berkunjung
Heem, karena aku akan melihat bayiku…
Dalam perutku ada makhluk hidup dan tumbuh sehat.
Subhanallah…
Aku sukai tiap gerakannya, aku ajak dia bicara biar dia kenali mama-nya.
Aku selalu perdengarkan mozart-mu
Aku tahu engkau sukainya…
Ya Allah, segerakanlah ini..
Aku meringkuk, tubuhku ditekan, aku telanjang….
Sempat aku berpikir…seperti inikah dia di dalam?
Lalu aku merasakan tusukan jarum di tulang belakangku, aku bergerak…
Bukan karena sakitnya, karena ini tak sebanding dengan sakitku, tidak ada apa-apanya.
Aku hanya terkejut saja, aku tidak siap akan disuntik dipunggungku.
Dan aku kembali ditekan untuk tetap meringkuk.
Perlahan aku mulai kebas, kaki-kakiku mati rasa.
Aku lumpuh bahkan jari pun tak kuasa aku gerakkan.
“Berdo’a ya bu…” kata dokter menenangkanku, tapi aku malah disergap kecemasan yang luar biasa.
Aku sadar tapi aku benar-benar tidak merasakan apa-apa.
Aku mendengar percakapan dokter, semua perbincangan kru aku mendengarnya.
Tapi bukan itu yang jadi perhatianku saat itu.
Anakku…
Kegelisahan nyata terlihat.
“Ibu baik-baik saja? Ibu sesak??” Tanya dokter lainnya.
Aku hanya bisa menggeleng. Aku cemas luar biasa.
Hanya 10 menit waktu mereka
Dan aku mendengar jeritan, dua kali jeritan yang sama kerasnya.
Jeritan kebebasan, jeritan rasa syukur dan jeritan sempurna-NYA.
Kulihat jam di tembok hijaunya, 05.40 wita.
Sekarang hari Kamis, 22 Oktober 2009.
“Selamat, bu..anaknya perempuan, sehat” entah siapa yang mengucapkan itu.
Oh, anakku…
Aku ingin memelukmu, aku mau menciumimu, aku inginkan dirimu nak,
Tapi mereka membawamu pergi, mereka memisahkan paksa kita.
Aku inginkan anakku, aku mau melihatnya, tolonglah….
Aku menjerit dalam batin dan mulut ini terlalu kaku untuk berkata-kata.
Tapi aku mendengar tangisanmu saja, keras dan sangat kuat.
Engkau sehat nak…Terimakasih ya Allah…
Diantara percakapan para dokter, antara suara nyaring peralatan-peralatannya dan suara penyedot darah.
Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sangat berat, leher belakangku berdenyut hebat, aku tidak bisa bernafas.
Ya Rabb..aku tidak mau kalah disini.
Tidak ditempat ini, bukan dengan cara seperti ini.
Tapi denyutan itu semakin keras.
Apakah akan pecah? Apakah aku akan berakhir?
Ya Allah, aku belum melihat anakku, janin yang selama 39 minggu Engkau titipkan dalam rahimku.
Aku belum mendekapnya, aku belum menyusuinya..
Beri aku kesempatan itu ya Allah…kuatkanlah aku.
Aku berusaha bernafas, oksigen yang dialirkan ke hidungku tak mampu lagi menyokong.
Para dokter tahu aku bermasalah dan mereka berusaha menenangkanku.
Dengan suntikan…beberapa suntikan pada selang infusku.
Dan aku terlalu pusing untuk mengingat berapa suntikan dan apa saja namanya.
Aku masih mau bernafas, aku masih mau berdetak, tapi denyutan itu nyata menggiringku menuju kegelapan.
Membimbingku menjauh dari sadarku.
Dua kalimat suci terucapkan, dzikir pun aku lafadzkan diantara takut dan do’aku…
Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi sekarang.
Aku seakan terbang…
Apakah helai rambutku tidak mampu menahan nyawaku?
Apakah aku sudah jauh?
Anakku…aku merindukanmu.
Tapi aku masih mendengar peralatan pemantau jantungku.
Aku masih mendengar dokter berbincang antara denting pisau dan gunting operasi pagi itu.
Dan aku merasakan elusan lembut dilenganku.
“Ibu baik-baik saja.”
Aku melihat kelegaan dimata mereka dan aku tahu mereka tersenyum meskipun dengan wajah tertutup masker.
Alhamdulillah ya Allah….
Aku ingin segera melihat anakku.
“Bayi ibu harus dalam pengawasan kami, karena bayi ibu sectio minimal 6 jam masa observasi...”
6 jam ? kenapa selama itu??
Aku sangat tersiksa dengan inginku.
Aku mau anakku tapi mereka menahannya.
Anakku sehat, mengapa mereka menjaganya?
Aku inginkan anakku karena hanya aku yang belum melihatnya.
Aku sedih dan perih, seperti luka sepeninggal anastesi.
Mama menjemput anakku, menjemput cucu keduanya.
Subhanallah….
Lailahaillallahu Allahu Akbar…
Anakku, cantiknya engkau.
Sempurna bentukmu.
Bersih.
Montok
Jari-jari mungilmu, aku menghitungnya, seperti punyaku ada 5.
Engkau tumbuh baik rupanya dalam rahimku.
“Bukalah matamu, nak, ini mama...”
“Apakah engkau mendengarku nak, ini mama...”
Aku hanya melihat gerakan mulut mungilmu dan geliat tubuhmu.
Aku pun jadi tahu, kalau engkau tahu aku mamamu.
Tapi penderitaan itu belum usai, ijinkan aku menyebutnya penderitaan.
Saat anastesi mengaburkan rasa perih, aku mulai merasakan nyerinya.
Bukan pada bekas lukanya tapi jauh didalam diriku, dalam perutku.
Aku merasa tidak kuat, aku menyerah dan aku menangis.
Ampuni aku ya Allah, aku tidak bisa menjalankan kodratku dengan sempurna dan aku masih mengeluh dengan nikmat seindah bayiku.
Sakit itu teramat sangat hingga mengalahkan wajah polos yang suci dan bersih itu.
Aku benar-benar sudah patah, sama seperti awalnya tiap 5 menit sakit itu datang.
Perawat-perawat itu (ahh, engkau sepenuh hati menjalankan tugasmu, engkau merawatku, memandikan aku, memenuhi kebutuhanku dan juga bayiku…terimakasih semuanya) mencari jalan keluar terbaik.
Mereka yang awalnya menggodai aku jadi merasa iba dan kasihan, mungkin aku mengingatkan mereka pada kakak atau adiknya atau bahkan pada mereka sendiri.
Obat oral masih membuatku menangis, pun lewat infus tidak jua bereaksi.
Mereka konsul dengan dokterku dan akhirnya obat anal yang mereka berikan.
Beberapa menit kemudian, rasa sakit itu hilang, menguap entah kemana.
Aku pun mulai bisa membalas candaan mereka.
Alhamdulillah ya Allah, aku Engkau selamatkan dan bayiku juga sehat
Itu 6 bulan yang lalu dan sekarang bayi itu kupanggil KEISHA.
Dan tiba-tiba seseorang bertanya “Masih mau punya anak lagi?”
Aku teringat “penderitaannya” kembali bahkan masih nyeri aku rasakan luka didalam
“Yah!” jawabku pasti.
Karena itu sudah menjadi kodratku, akan aku terima dan jalani ia dengan sebaik-baik mampuku.
My baby Kei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar